Renungan Siwa Ratri
Adalah
seorang Maha Rsi yang telah “putus” dari segala keterikatan
terhadap kenikmatan dunia, yang hidup di zaman kerajaan singosari dengan
rajanya Ken Arok, yang mana sang raja masih Keliputan dengan kehidupan dunia.
Pada suatu ketika sang maha Rsi menulis dalam lontar tentang sebuah kisah
perjalan seseorang pemburu yang masih terikat oleh segala bentuk materi
kehidupan, si pemburu itu “Lubdaka”
diberiri inisial dari orang yang dikisahkan itu yang memang mengandung
arti pemburu. Sedangkan
seorang Rsi agung itu bernama “ Mpu Tanakung”
yang bermakna Tan artinya tidak
dan Akung artinya terikat. Jadi Tanakung itu seorang Rsi / Mpu yang kehidupan duniawinya telah terlepaskan( telah menemukan kesadaran
). Sedangkan kumpulan tulisan dalam kisah perjalanan spiritual ini dikenal nama
Siwaratri Kalpa.( dari kegelapan malam
menuju terang dalam kesadaran siwa)
Dalam karya tulis itu dikisahkan
bahwa si Lubdaka yang kesehariannya sebagai seorang pemburu yang hidup dalam
dunia penuh kekurangan. Dikisahkan perjlanan
si pemburu melakukan pemburuan ke tengah hutan sehari sebelum Tilem
kepitu, yang mana hari itu merupakan keadaan
alam yang paling gelap dari hari-hari yang lainnya. Disini dapat dicari
pemahaman pilosofinya bahwa Tilem kepitu
yang bermakna tujuh kegelapan yang meyelimuti setiap kehidupan manusia. Yang
mana termasuk tujuh kegelapan ( sapta timira ) itu pada dasarnya adalah “ Dia
yang merasa diri paling…” diantaranya ; (1) merasa diri paling Kaya, suka mencemoh orang miskin, tidak
mau berdana, kikir, dan pelit dengan
kekayaannya. (2) Merasa diri paling Pintar, dengan kepintaran suka membodohi orang, suka memamerkan
gelar akademisnya; (3) merasa diri paling Muda( kuat), suka mengejek orang yang berpenampilan lemah , suka
ngejek orang tua renta karena merasa diri paling kuat ; (4) merasa diri paling
Bangsawan, menganggap diri paling memiliki derajat kebangsawanan paling tinggi, sementara orang
lain berderajat rendah; (5) merasa diri paling Ganteng/cantik, senang
memamerkan kecatikan/ganteng, merasa diri paling “wah” dalam penampilan berpakaian sehingga sering mengenyek orang
yang berpenampilan biasa-biasa; (6) merasa diri paling Sakti; suka pamer
keteguhan/ kekebalan karena merasa diri paling sakti diantara orang lain;
(7)
merasa diri paling Hebat, suka tepuk
dada dengan segala sesuatu keberhasilan yang diraih, suka mengaku semua ini
karena aku, semua itu karena aku kalau
tidak ada aku maka semua itu tidak akan berhasil. Nah demikian tujuh kegelapan yang
menyelimuti manusia yang oleh pengarang cerita Lubdaka itu sebenarnya mengkritisi
sikap dan laku seorang raja Ken Arok. Akan tetapi karena cerita ini mengandung
unsur kehidupan yang menyeluruh, maka dijadikan dasar pilosofi dalam ajaran
agama hindu dalam perjalanan manusia menuju kesadaran Shiwa. Siapapun ia yang
telah mampu melepaskan diri dari keterikatan kegelapan( darkness) menuju ke kesadaran ( wearness) perpegang
pada kebijaksanaan(wisdom),maka mereka akan bertemu dengan pengetahuan Universal atau kesadaran Agung.
Sang pengarangpun mengungkap jalan
untuk mencapai ke kesadaran yakni dengan selalu “Jagra”, yang artinya selalu sadar dan waspada akan cobaan dan godaan-godaan
hidup yang selalu mengikuti perjalanan hidup ini, hal tersebut dapat disimak dari perjalanan Lubdaka saat melewati
malam hari, dengan menaiki pohon Bilwa serta memetik satu-demi satu daunnya,
demi mempertahankan diri dari ketakutan akan jatuh karena ngantuk dan takut
akan datang binatang buas,hingga pagi menjelang. Disini dapat dipahami
bahwa ketika kesadaran dan kewaspadaan
telah bangkit , yang ditandai dengan naik pohon bilwa, memetik daunnya berarti
melakukan Japa. Selanjutnya “Upawasa”,
adalah mampu memilah dan memilih apa yang patut untuk dilakukan dan dinikmati
dalam kehidupan ;”Mono brata”, mampu
mengutarakan pembicaraan yang patut dan benar untuk dibicarakan dan menjauhkan
diri dari pembicaraan yang keliru serta menyakiti ; “Yoga dan Meditasi” yaitu mampu melakukan konsentrasi serta
kontemplasi penuh keteguhan diri, guna
mencapai penyatuan (samadi) dengan Jiwa Agung
melalui nama smaranam mengulang-ulang “OM NAMO SIWA YA”. “Semoga semua hidup berbahagia”
Oleh : I Nyoman Musna Suwung, 14.1.2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar