Kamis, 26 Januari 2012

Siwaratri


Renungan Siwa Ratri

            Adalah seorang Maha Rsi yang telah “putus” dari segala keterikatan terhadap kenikmatan dunia, yang hidup di zaman kerajaan singosari dengan rajanya Ken Arok, yang mana sang raja masih Keliputan dengan kehidupan dunia. Pada suatu ketika sang maha Rsi menulis dalam lontar tentang sebuah kisah perjalan seseorang pemburu yang masih terikat oleh segala bentuk materi kehidupan, si pemburu itu “Lubdaka” diberiri inisial dari orang yang dikisahkan itu yang memang mengandung arti  pemburu. Sedangkan seorang Rsi agung itu bernama “ Mpu Tanakung” yang bermakna Tan artinya tidak dan Akung artinya terikat. Jadi  Tanakung itu seorang Rsi / Mpu yang  kehidupan duniawinya  telah terlepaskan( telah menemukan kesadaran ). Sedangkan kumpulan tulisan dalam kisah perjalanan spiritual ini dikenal nama Siwaratri Kalpa.( dari kegelapan malam menuju terang dalam kesadaran siwa)
            Dalam karya tulis itu dikisahkan bahwa si Lubdaka yang kesehariannya sebagai seorang pemburu yang hidup dalam dunia penuh kekurangan. Dikisahkan perjlanan  si pemburu melakukan pemburuan ke tengah hutan sehari sebelum Tilem kepitu, yang mana hari itu merupakan keadaan  alam yang paling gelap dari hari-hari yang lainnya. Disini dapat dicari pemahaman pilosofinya  bahwa Tilem kepitu yang bermakna tujuh kegelapan yang meyelimuti setiap kehidupan manusia. Yang mana termasuk tujuh kegelapan ( sapta timira ) itu pada dasarnya adalah “ Dia yang merasa diri paling…” diantaranya ; (1) merasa diri paling Kaya, suka mencemoh orang miskin, tidak mau berdana, kikir, dan  pelit dengan kekayaannya. (2) Merasa diri paling Pintar, dengan kepintaran suka membodohi orang, suka memamerkan gelar akademisnya; (3) merasa diri paling Muda( kuat), suka mengejek orang yang berpenampilan lemah , suka ngejek orang tua renta karena merasa diri paling kuat ; (4) merasa diri paling Bangsawan, menganggap diri paling memiliki derajat  kebangsawanan paling tinggi, sementara orang lain berderajat rendah; (5) merasa diri paling Ganteng/cantik, senang memamerkan kecatikan/ganteng, merasa diri paling “wah” dalam penampilan berpakaian sehingga sering mengenyek orang yang berpenampilan biasa-biasa; (6) merasa diri paling Sakti; suka pamer keteguhan/ kekebalan karena merasa diri paling sakti diantara orang lain;
 (7) merasa diri paling Hebat, suka tepuk dada dengan segala sesuatu keberhasilan yang diraih, suka mengaku semua ini karena aku,  semua itu karena aku kalau tidak ada aku maka semua itu  tidak akan  berhasil. Nah demikian tujuh kegelapan yang menyelimuti manusia yang oleh pengarang cerita Lubdaka itu sebenarnya mengkritisi sikap dan laku seorang raja Ken Arok. Akan tetapi karena cerita ini mengandung unsur kehidupan yang menyeluruh, maka dijadikan dasar pilosofi dalam ajaran agama hindu dalam perjalanan manusia menuju kesadaran Shiwa. Siapapun ia yang telah mampu melepaskan diri dari keterikatan kegelapan( darkness)  menuju ke kesadaran ( wearness) perpegang pada kebijaksanaan(wisdom),maka mereka akan bertemu dengan pengetahuan  Universal atau kesadaran Agung.
            Sang pengarangpun mengungkap jalan untuk mencapai ke kesadaran yakni dengan selalu “Jagra”, yang artinya selalu sadar dan waspada akan cobaan dan godaan-godaan hidup yang selalu mengikuti perjalanan hidup ini, hal tersebut dapat disimak dari perjalanan Lubdaka saat melewati malam hari, dengan menaiki pohon Bilwa serta memetik satu-demi satu daunnya, demi mempertahankan diri dari ketakutan akan jatuh karena ngantuk dan takut akan datang binatang buas,hingga pagi menjelang. Disini dapat dipahami bahwa  ketika kesadaran dan kewaspadaan telah bangkit , yang ditandai dengan naik pohon bilwa, memetik daunnya berarti melakukan Japa. Selanjutnya “Upawasa”, adalah mampu memilah dan memilih apa yang patut untuk dilakukan dan dinikmati dalam kehidupan ;”Mono brata”, mampu mengutarakan pembicaraan yang patut dan benar untuk dibicarakan dan menjauhkan diri dari pembicaraan yang keliru serta menyakiti ; “Yoga dan Meditasi” yaitu mampu melakukan konsentrasi serta kontemplasi penuh  keteguhan diri, guna mencapai penyatuan (samadi) dengan Jiwa Agung melalui nama smaranam mengulang-ulang “OM  NAMO SIWA YA”. “Semoga semua hidup berbahagia”
Oleh : I Nyoman Musna                                      Suwung, 14.1.2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar