Minggu, 02 Februari 2014

Dalem Sunya




TIRTAYATRA KE DALEM SUNIA

            Hari itu Minggu, kajeng kliwon, wuku Dukut, 6 juni 2010, perjalanan tirta yatra menuju Grya Dukuh Sakti Tengahing Pada di tegalalang. Setibanya kita di grya kurang pada pukul 16.30, setelah pamitan di mrajan grya, rombongan melanujutkan perjalanan menuju sebuah tempat yang namanya Pura Dalem Sunia . Dalam perjalanan kita melewati jalan pedesaan yang asri dengan kerindangan pepohonan dan suasana kehidupan masyarakatnya yang masih udik, sepertinya keadaan itu  sama dengan suasana Kuta di tahun 70-an, sepi, nyaman dan damai. Setelah melintasi jalan kurang lebih 7 km, rombongan parkir di depan Pura Puseh desa Tegalalang. Rombongan mulai menuruni jalan setapak yang keadaannya setengah bejek dan diikuti suasana yang sudah mulai gelap.
            Dengan beriringan dan penuh hati-hati, rombongan menapaki langkah demi langkah dengan penuh konsentrasi agar tidak terpeleset. Sesekali terdengar suara lolong anjing di depan. Dalam perjalanan yang penuh konsen itulah muncul pertanyaan dalam hati ini. Bagaimanakah suasana di pura Dalem sunia itu?, ada apakah gerangan di pura itu?. Tiada terasa kita telah menempuh perjalanan 3 km, meski dalam perjalanan itu ada yang jatuh terpeleset, kerena suasana makin gelap dalam semak-semak belukar. Lampu senterpun mulai dinyalakan, ada juga yang menggunakan nyala HP demi terhindar dari kegelapan dan binatang yang menekutkan atau takut akan terpeleset.
            Namun tiada terasa, rombongan sampai pada sebuah daerah lapang agak luas yang ditumbuhi padang ilalang  sudah diratakan. Persiapan persembahyanganpun mulai dipersiapkan. Banten pekeling, canang dan dupa sudah dinyalakan. Rombongan duduk dihadapan dua pelinggih yang terbuat dari pepohonan dan ditengah- tengahnya terdapat pohon jepun putih. Dengan dienter oleh pemengku ( Bli Wayan ) upakara dipersembahkan. Sementara saya , Netri dan Asih ada pada berisan duduk paling belakang. Pada saat itulahlah saya melakukan meditasi, dan tiba-tiba muncullah bentuk Kori Agung , begitu besar dan tinggi mirip bentuk wayang Kayonan dengan ukiran yang indah. Sayapun kasi tahu Asih dan Netri, bahwa didepan antara dua pelinggih dari pohon itu ada kori Sunia. Akhirnya saya ambil bunga canang, dengan konsentrasi mohon dibukakan Kori agung itu. Tepat pada saan itu terdenganrlah suara kentongan diseputaran tempat itu, seakan-akan suara mengetk pintu, akhirnya dari pandangan meditasi terlihat Kori terbuka. Seteruanya saya melanjutkankan meditasi menyusuri pintu itu masuk kedalam dan ternyata didalam daerah lapang itu terdapat jalan setapak, dengan di kanan-kiri terdapat telaga yang dihiasi  bunga teratai berwarna merah dan juga putih. Begitu indah suasananya…, setelah  itu saya meneruskan perjalanan bathin menyusuri jalan setapak itu. Di depan sana terlihat Kori Agung yang bentuknya mirip dengan kori agung pura Penyarikan-Kuta. Sampai disini saya tidak melanjutkan perjalanan, akan tetapi kembali pada kesadaran biasa, guna melakukan persembahyangan bersama. Setelah mendapat tirta, saya kembali mengheningkan pikiran, teranyata tempat sembahyang itu namanya Pura Praja Pati Sunia.



           

Setelah persembahyangan selesai, kita bangkit untuk melenjutkan perjalanan menuju Pura Dalem Sunia yang berada di depan kira-kira 50 meter. Kita bertiga berjalan diantara dua pelinggih dari pohon itu, sementara yang lainnya melintas disebelah kanannya. Sesampainya rombongan ditengan hutan yang lebat dan  gelap, setiap kita mencari posisi yang aman dan nyaman. Akan tetapi benyak dari mereka digigit semut, sehingga suasana menjadi penuh gelisah. Sementara saya duduk pada posisi paling belakang. Banten diaturkan diantara dua pohon besar, saya dengan tenang duduk meditasi. Dalam meditasi  itu terjadi dialog dari bathin dengan penuh pertanyaan dan jawaban seperti :
Tanya : Apakah Dalem itu..?
Jawab :  Sesuatu tempat yang ada di dalam diri yang paling dalam.
Tanya :  Apakah itu Sunia ?
Jawab : Suatu keadaan dimana tempatnya ditengah nurani,  yang dipenuhi dengan suara semesta.  bila kita mampu menyatukan suara itu menjadi suara AUM (OM), kemudian  akan muncul cahaya terang benderang dalam suasana sepi( Sunia ).
            Setelah menemukan jawaban, tiba-tiba saya dipercikan tirta, saya sadar. Ternyata dari tadi saya masuk jauh kedalam, sampai lupa rombongan melaksanakan persembahyangan bersama.  Setelah nunas tirta, tiba-tiba Bli Nyoman datang dan mengatakan bahwa dia menerima pesan Sunia untuk mencari buah Manas, kemudian cari inti tengah buah tersebut. Sayapun diajak Bli nyoman untuk mencari pohon Nanas, dengan menyalakan senter berputar –putar diseputaran tempat sembahyang, guna mendapatkan pohon nanas. Akan tetapi saya sadar bahwa Pohon Manas itu bukanlah pohon nanas secara nyata, akan tetapi dalam wujud pernyataan yang berkulit. Perlu kiranya dikupas maksud dan makna pesan itu. Seperti dialog yang saya alami sebelumnya itu. Setelah Bli Nyoman mengerti apa yang saya maksud , akhirnya niat mencari pohon Nanas dibatalkan. Kemudian setelah sungkem di antara kedua pohon besar itu, kita mohon pamit.  Ketika kita tinggalkan tempat, dalam jarak sepuluh langkah datanglah pemangku pura dalem Sunia yang bertugas di pura itu. Rombongan tetap meneruskan perjalanan untuk pulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar