TIRTAYATRA KE DALEM SUNIA
Hari
itu Minggu, kajeng kliwon, wuku Dukut, 6 juni 2010, perjalanan tirta yatra
menuju Grya Dukuh Sakti Tengahing Pada di tegalalang. Setibanya kita di grya
kurang pada pukul 16.30, setelah pamitan di mrajan grya, rombongan melanujutkan
perjalanan menuju sebuah tempat yang namanya Pura Dalem Sunia . Dalam perjalanan kita melewati jalan pedesaan
yang asri dengan kerindangan pepohonan dan suasana kehidupan masyarakatnya yang
masih udik, sepertinya keadaan itu sama
dengan suasana Kuta di tahun 70-an, sepi, nyaman dan damai. Setelah melintasi
jalan kurang lebih 7 km, rombongan parkir di depan Pura Puseh desa Tegalalang.
Rombongan mulai menuruni jalan setapak yang keadaannya setengah bejek dan
diikuti suasana yang sudah mulai gelap.
Dengan
beriringan dan penuh hati-hati, rombongan menapaki langkah demi langkah dengan
penuh konsentrasi agar tidak terpeleset. Sesekali terdengar suara lolong anjing
di depan. Dalam perjalanan yang penuh konsen itulah muncul pertanyaan dalam
hati ini. Bagaimanakah suasana di pura Dalem sunia itu?, ada apakah gerangan di
pura itu?. Tiada terasa kita telah menempuh perjalanan 3 km, meski dalam
perjalanan itu ada yang jatuh terpeleset, kerena suasana makin gelap dalam
semak-semak belukar. Lampu senterpun mulai dinyalakan, ada juga yang
menggunakan nyala HP demi terhindar dari kegelapan dan binatang yang menekutkan
atau takut akan terpeleset.
Namun
tiada terasa, rombongan sampai pada sebuah daerah lapang agak luas yang
ditumbuhi padang
ilalang sudah diratakan. Persiapan
persembahyanganpun mulai dipersiapkan. Banten pekeling, canang dan dupa sudah
dinyalakan. Rombongan duduk dihadapan dua pelinggih yang terbuat dari pepohonan
dan ditengah- tengahnya terdapat pohon jepun putih. Dengan dienter oleh
pemengku ( Bli Wayan ) upakara dipersembahkan. Sementara saya , Netri dan Asih ada
pada berisan duduk paling belakang. Pada saat itulahlah saya melakukan
meditasi, dan tiba-tiba muncullah bentuk Kori Agung , begitu besar dan tinggi
mirip bentuk wayang Kayonan dengan ukiran yang indah. Sayapun kasi tahu Asih
dan Netri, bahwa didepan antara dua pelinggih dari pohon itu ada kori Sunia.
Akhirnya saya ambil bunga canang, dengan konsentrasi mohon dibukakan Kori agung
itu. Tepat pada saan itu terdenganrlah suara kentongan diseputaran tempat itu,
seakan-akan suara mengetk pintu, akhirnya dari pandangan meditasi terlihat Kori
terbuka. Seteruanya saya melanjutkankan meditasi menyusuri pintu itu masuk
kedalam dan ternyata didalam daerah lapang itu terdapat jalan setapak, dengan di
kanan-kiri terdapat telaga yang dihiasi
bunga teratai berwarna merah dan juga putih. Begitu indah suasananya…,
setelah itu saya meneruskan perjalanan
bathin menyusuri jalan setapak itu. Di depan sana terlihat Kori Agung yang bentuknya mirip
dengan kori agung pura Penyarikan-Kuta. Sampai disini saya tidak melanjutkan
perjalanan, akan tetapi kembali pada kesadaran biasa, guna melakukan
persembahyangan bersama. Setelah mendapat tirta, saya kembali mengheningkan
pikiran, teranyata tempat sembahyang itu namanya Pura Praja Pati Sunia.
Setelah
persembahyangan selesai, kita bangkit untuk melenjutkan perjalanan menuju Pura
Dalem Sunia yang berada di depan kira-kira 50 meter. Kita bertiga berjalan
diantara dua pelinggih dari pohon itu, sementara yang lainnya melintas
disebelah kanannya. Sesampainya rombongan ditengan hutan yang lebat dan gelap, setiap kita mencari posisi yang aman
dan nyaman. Akan tetapi benyak dari mereka digigit semut, sehingga suasana
menjadi penuh gelisah. Sementara saya duduk pada posisi paling belakang. Banten
diaturkan diantara dua pohon besar, saya dengan tenang duduk meditasi. Dalam
meditasi itu terjadi dialog dari bathin
dengan penuh pertanyaan dan jawaban seperti :
Tanya : Apakah
Dalem itu..?
Jawab : Sesuatu tempat yang ada di dalam diri yang
paling dalam.
Tanya : Apakah itu Sunia ?
Jawab : Suatu keadaan dimana tempatnya ditengah nurani, yang dipenuhi dengan suara semesta. bila kita mampu menyatukan suara itu menjadi
suara AUM (OM), kemudian akan muncul cahaya terang benderang dalam
suasana sepi( Sunia ).
Setelah
menemukan jawaban, tiba-tiba saya dipercikan tirta, saya sadar. Ternyata dari
tadi saya masuk jauh kedalam, sampai lupa rombongan melaksanakan
persembahyangan bersama. Setelah nunas
tirta, tiba-tiba Bli Nyoman datang dan mengatakan bahwa dia menerima pesan
Sunia untuk mencari buah Manas, kemudian cari inti tengah buah tersebut.
Sayapun diajak Bli nyoman untuk mencari pohon Nanas, dengan menyalakan senter
berputar –putar diseputaran tempat sembahyang, guna mendapatkan pohon nanas.
Akan tetapi saya sadar bahwa Pohon Manas itu bukanlah pohon nanas secara nyata,
akan tetapi dalam wujud pernyataan yang berkulit. Perlu kiranya dikupas maksud
dan makna pesan itu. Seperti dialog yang saya alami sebelumnya itu. Setelah Bli
Nyoman mengerti apa yang saya maksud , akhirnya niat mencari pohon Nanas
dibatalkan. Kemudian setelah sungkem di antara kedua pohon besar itu, kita
mohon pamit. Ketika kita tinggalkan
tempat, dalam jarak sepuluh langkah datanglah pemangku pura dalem Sunia yang bertugas
di pura itu. Rombongan tetap meneruskan perjalanan untuk pulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar