TIRTA YATRA KE PURA
“MENJANGAN”
SABTU 17 SEPTEMBER
2011
Adalah merupakan
program Tirtayatra LPD Kuta iap tahunnya, yang mana tahun 2011 ini pelaksanaan
Tirtayatra menuju Pura Menjangan, gilimanuk. Seperti biasa seluruh peserta
berkumpul di Pura Desa Kuta yang diawali persembahyangan bersama terlebih
dahulu. Setelah waktu menunjukkan pukul 08.00 wita, rombongan berangkat dengan
menggunakan 3 bus. Setelah perjalanan kurang lebih dua jam kita sampai di pura
Rambut Siwi, rombongan berhenti sejenak sembari melakukan persembahyangan dan
rehat sejenak untuk ngilangin penatnya pantat.serta buang air kecil. Setelah
kurang lebih rehat 10 menit, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Pura
segara Rupek, yang posisi pura dekat jalan raya ditepi pantai. Di pura ini rombongan
melaksanakan persembahyangan di Patirtan Ida Bhatara lingsir Danghyang Sidhi
Mantra. Pada saat melaksanakan persembahyangan saya mengalami dialog sunya,
saya bertanya pada beliau yang melingga disana, bagaimana cara(tata) memanggil
beliau yang berstana disana? Ada
jawaban muncul “cening dados ngorang “Bapa”(bahasa bali), beliau yang saya lihat begitu lembut dengan perawakan
tinggi di pelataran gedong, sayapun bersujud di kaki sang guru Sunya. Saat
diperciki tirta sayapun dikasi bunga Cempaka warna Putih oleh pemangku untuk
disumpangi.
Setelah sembahyang di patirtan Ida
Hyang Lingsir, rombongan bubar sembari nuju makan bersama. Tetapi saya dan
beberapa teman menuju asram Nyi Ratu Kidul untuk sembahyang dan melakukan
sungkem. Pada saat persembahyangan jro mangku tidak tampak di pesraman, tetapi
akhir sembahyang saya berharap dapat sungkem di altar ruang tengah(kamar) Nyi
Ratu, tetapi kamar terkunci. Pada saat angkat kaki dari tempat sembahyang,
datanglah Jro Mangku untuk mempersilakan kita sungkem ke tengah kamar, akhirnya
terwujudlah harapan saya demikian juga yang lainnya dapat sungkem di tengan
kamar beliau. Setelah pamit dari Asrama, kita lanjutkan makan siang bersama.
Makan siang usai, perjalanan
dilanjutkan menuju tempat perahu penyebrangan guna melakukan penyebrangan ke
Pura Menjangan. Setelah pendaftaran oleh panitia, penyebrangan berlangsung.
Tinggallah kami paling terakhir 4 orang menaiki perahu yang cukup gede, tapi
tidak apalah yang terpenting sampai disebrang. Setelah melewatu waktu 20 menit,
kita sampai ditepi pantai, meski sang nakhoda perahu mengalami mabuk karena
tadinya dia minum arak katanya, syukurlah kita sampai dengan selamat, meski ada
perasaan waswas saat melihat sang nakhoda tertidur hingga kendali mesin
dilakukan denga kakinya. Sesampainya di tepi pantai tempat penambatan perahu,
kita berempat turun dan istirahat di tepi pantai yang berpasir putih. Menikmati
indahnya pantai berpasir putih sambil menunggu matahari turun ke barat. Deburan
ombak bak suara alam melengkapai desiran angin yang mampu menghapus kepenatan.
Disaat kita santai, tiba-tiba datanglah seekor menjangan dibelakang, semua
tertegun dan mencoba memberi makanan agar mau tinggal diseputaran kita lebih
lama. Tiada disangka juga, tiba-tiba datanglah ikan warna –warni dibibir air
laut, begitu dekat ketepi, begitu indah penuh cerianya bermain-main pada
riak-riak kecil, hati terasa damai menikmati indahnya pantai berpasir putih
dihiasi karang pantai , seputih harapan bagi mereka yang bertirtayatra.
Kurang lebih dua
jam menikmati keindahan pantai, kecerian ikan menari dibibir pantai dan
binatang menjangan yang lagi asyik nikmati makanan yang diberikan oleh sahabat.
Kita berkemas meninggalkan pantai melanjutkan perjalanan menuju pura pertama
untuk melaksanakan persembahyangan. Pemangku dan juru resik telah siap menanti
disana, sementara menjangan ada 4 ekor disana, yang satu ditengan pura, yang
lain berada diluar pura. Canang dan dupa dihaturkan, kemudian kita berlima
melakukan persembahyangan yang dipimpin oleh pemangku. Sisa canang habis
sembhayang kita buang ketempat sampah, disana telah ditunggu oleh sang
menjangan untuk mengais makanan yang mungkin bisa dimakan dari sisa canang itu.
Perjalanan diteruskan menuju pendopo
Kebo Iwa (Brahma Ireng), seperti
biasanya persembahyangan dengan aturan Panca sembah dipimpin oleh pemangku.
Mengakhiri persembahyangan kita semua melakukan sungkem tiga kali di altar
Beliau. Akirnya kita diberikan wija berwarna hitam yang dikenakan dengan jari
tangah tangan kanan pada antara dua alis (adnya). Selanjutnya kita menuju Pendopo Gajah Mada ( Wisnu Murti),
dilakukan persembahyanan sama dengan di pendopo Kebo Iwa , akan tetapi akhir
persembahyangan kita diberikan benang Tridatu untuk dikenakan pada pergelangan
tangan kanan.
Meski wajah terasa penat karena
keringat dan cuaca panas, kita tetap melanjutkan persembahyangan menuju padma sana Hyang Lingsir ( Bhatara Ciwa) juga dipimpin oleh pemangku dengan
persembahyangan dengan panca sembah. Berikutnya kita sembahyang di patirtan Ratu Dalem Watu Renggong dengan
pelinggih meru tumpang 11 yang pengerjaannya masih tahap berlangsung dengan
bahan pelapis pasir putih dicampur semen putih . Persembahyangan juga dipimpin
oleh pemangku disana.
Selepas dari patirtan Ratu Dalem
Watu Renggong, persembahyangan kita lanjutan pada Ganeca yang patungnya begitu
besar menghadap ke laut, seakan – akan beliau siap menjaga keselamatan dari
ancaman bahaya dari luapan air laut. Nah disini pemangku mengajak umat
bersembahyang dengan cara yang sedikit berbeda dari biasanya yang mengginakan
aturan panca sembah. Persembhyangan pertama dengan menguncarkan mantra OM
seganyak 3 kali, berikutnya mantram Gayatri sebanyak 3 kali, terus mantram OM
Nama Siwa 3 kali kemudian diakhiri mantram parama santih 3 kali.
Persembahyangan dilakukan dari belakang patung Ganeca, kemudian setelah dapat
tirta, dupa yang habis dipakai sembahyang diambil pemangku untuk ditaruh depan
altar, para bhakta diarahkan untuk sungkem dan mencium kaki Ganesa pertanda
persembahyangan usai.
Mentari semakin
condong menuju Sun-set, angin semilir suara ombak mewarnai perjalanan menaiki melanjutkan
persembahyangan di patirtan Dewi Parwati, yang letaknya paling pojok lereng
bebatuan karang laut, didepan pelinggih
dihiasi bale bengong yang menambah suasana semakin tampak asri dan mengesankan.
Persembahyangan disini tidak dienter oleh pemangku, akan tetapi saya yang
memimipinnya dengan diawali Trisandya. Suara cicakpun menambah suasana
sembahyang makin khusuk dan mengesankan, tenang, damai, sentosa terasa saat
itu. Setelah sembahyang kita keluar dari altar, ternyata sudah ditunggu oleh
menjangan betina. Saya coba berikan makan jajan, menjanganpun menerima dan mau
memakan dengan lahapnya. Karena pengambilan gambar foto beberapa kali, akhirnya
dia mundur dan menjauh dari kita.
Dengan menuruni tangga pelataran pura, kita menuju
pura yang berposisi ditengah areal daerah pulau menjangan. Suasana sudah
nerawang mulai samar-samar jelang sandyakala. Dengan langkah yang santai kita
penuh waspada karena jalan tidak begitu rata, dipenuhi kerikil karang dan duri
dikanan kiri jalan, kita berlima menuju pura tersebut. Didepan pura kita
bertemu dengan Jro Bendesa, Bli Jo dan nyoman Alit Ardana, mereka akan balik
dari pura menuju tempat rehat. Gulita suasana ditengah pura, dengan menyalakan
dupa, trus maturan banten iyunan dan canang, tokek mulai bersuara sepertina
berucap Wellcome to Pura. Setelah ngayaban banten, kita bersama
sembahyang diawali dengan Trisandya kemudian Panca sembah. Setelah matirta dan
bija selanjutnya kita berlima melakukan Purwa Daksina (berkeliling di seputaran
pelinggih dengan arah jarum jam sebanyak
3 kali) dan sungkem di pelataran gedong . Kita duduk kembali kemudian
kita pancarkah doa cinta kasih kepada jagat semesta . sehabis itu menikmati
prasadam (surudan) tiba-tiba kita tengadah keatas melihat keindahan bintang di
langit. Ternyata tampaklah gugusan bintang membentuk tanda jantung (Love) dua
gugus atas dan bawah . disini nampak bahwa semesta memberi tanda pada kita
bahwasanya ketika kita datang dengan persembahan Cinta Kasih, maka Alampun
memberi ciri perlambang gugusan bintang berbentuk tanda Jantung, oh luar biasa
seru kita semua sembari makan surudan(prasadam)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar