Minggu, 02 Februari 2014

Tirta Yatra ke Menjangan,2011




TIRTA YATRA KE PURA “MENJANGAN”
SABTU 17 SEPTEMBER 2011

Adalah merupakan program Tirtayatra LPD Kuta iap tahunnya, yang mana tahun 2011 ini pelaksanaan Tirtayatra menuju Pura Menjangan, gilimanuk. Seperti biasa seluruh peserta berkumpul di Pura Desa Kuta yang diawali persembahyangan bersama terlebih dahulu. Setelah waktu menunjukkan pukul 08.00 wita, rombongan berangkat dengan menggunakan 3 bus. Setelah perjalanan kurang lebih dua jam kita sampai di pura Rambut Siwi, rombongan berhenti sejenak sembari melakukan persembahyangan dan rehat sejenak untuk ngilangin penatnya pantat.serta buang air kecil. Setelah kurang lebih rehat 10 menit, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Pura segara Rupek, yang posisi pura dekat jalan raya ditepi pantai. Di pura ini rombongan melaksanakan persembahyangan di Patirtan Ida Bhatara lingsir Danghyang Sidhi Mantra. Pada saat melaksanakan persembahyangan saya mengalami dialog sunya, saya bertanya pada beliau yang melingga disana, bagaimana cara(tata) memanggil beliau yang berstana disana? Ada jawaban muncul “cening dados ngorang “Bapa”(bahasa bali), beliau yang  saya lihat begitu lembut dengan perawakan tinggi di pelataran gedong, sayapun bersujud di kaki sang guru Sunya. Saat diperciki tirta sayapun dikasi bunga Cempaka warna Putih oleh pemangku untuk disumpangi.
            Setelah sembahyang di patirtan Ida Hyang Lingsir, rombongan bubar sembari nuju makan bersama. Tetapi saya dan beberapa teman menuju asram Nyi Ratu Kidul untuk sembahyang dan melakukan sungkem. Pada saat persembahyangan jro mangku tidak tampak di pesraman, tetapi akhir sembahyang saya berharap dapat sungkem di altar ruang tengah(kamar) Nyi Ratu, tetapi kamar terkunci. Pada saat angkat kaki dari tempat sembahyang, datanglah Jro Mangku untuk mempersilakan kita sungkem ke tengah kamar, akhirnya terwujudlah harapan saya demikian juga yang lainnya dapat sungkem di tengan kamar beliau. Setelah pamit dari Asrama, kita lanjutkan makan siang bersama.
            Makan siang usai, perjalanan dilanjutkan menuju tempat perahu penyebrangan guna melakukan penyebrangan ke Pura Menjangan. Setelah pendaftaran oleh panitia, penyebrangan berlangsung. Tinggallah kami paling terakhir 4 orang menaiki perahu yang cukup gede, tapi tidak apalah yang terpenting sampai disebrang. Setelah melewatu waktu 20 menit, kita sampai ditepi pantai, meski sang nakhoda perahu mengalami mabuk karena tadinya dia minum arak katanya, syukurlah kita sampai dengan selamat, meski ada perasaan waswas saat melihat sang nakhoda tertidur hingga kendali mesin dilakukan denga kakinya. Sesampainya di tepi pantai tempat penambatan perahu, kita berempat turun dan istirahat di tepi pantai yang berpasir putih. Menikmati indahnya pantai berpasir putih sambil menunggu matahari turun ke barat. Deburan ombak bak suara alam melengkapai desiran angin yang mampu menghapus kepenatan. Disaat kita santai, tiba-tiba datanglah seekor menjangan dibelakang, semua tertegun dan mencoba memberi makanan agar mau tinggal diseputaran kita lebih lama. Tiada disangka juga, tiba-tiba datanglah ikan warna –warni dibibir air laut, begitu dekat ketepi, begitu indah penuh cerianya bermain-main pada riak-riak kecil, hati terasa damai menikmati indahnya pantai berpasir putih dihiasi karang pantai , seputih harapan bagi mereka yang bertirtayatra.
Kurang lebih dua jam menikmati keindahan pantai, kecerian ikan menari dibibir pantai dan binatang menjangan yang lagi asyik nikmati makanan yang diberikan oleh sahabat. Kita berkemas meninggalkan pantai melanjutkan perjalanan menuju pura pertama untuk melaksanakan persembahyangan. Pemangku dan juru resik telah siap menanti disana, sementara menjangan ada 4 ekor disana, yang satu ditengan pura, yang lain berada diluar pura. Canang dan dupa dihaturkan, kemudian kita berlima melakukan persembahyangan yang dipimpin oleh pemangku. Sisa canang habis sembhayang kita buang ketempat sampah, disana telah ditunggu oleh sang menjangan untuk mengais makanan yang mungkin bisa dimakan dari sisa canang itu.
            Perjalanan diteruskan menuju pendopo Kebo Iwa (Brahma Ireng), seperti biasanya persembahyangan dengan aturan Panca sembah dipimpin oleh pemangku. Mengakhiri persembahyangan kita semua melakukan sungkem tiga kali di altar Beliau. Akirnya kita diberikan wija berwarna hitam yang dikenakan dengan jari tangah tangan kanan pada antara dua alis (adnya). Selanjutnya kita menuju Pendopo Gajah Mada ( Wisnu Murti), dilakukan persembahyanan sama dengan di pendopo Kebo Iwa , akan tetapi akhir persembahyangan kita diberikan benang Tridatu untuk dikenakan pada pergelangan tangan kanan.
            Meski wajah terasa penat karena keringat dan cuaca panas, kita tetap melanjutkan persembahyangan menuju padma sana Hyang Lingsir ( Bhatara Ciwa) juga dipimpin oleh pemangku dengan persembahyangan dengan panca sembah. Berikutnya kita sembahyang di patirtan Ratu Dalem Watu Renggong dengan pelinggih meru tumpang 11 yang  pengerjaannya masih tahap berlangsung dengan bahan pelapis pasir putih dicampur semen putih . Persembahyangan juga dipimpin oleh pemangku disana.
            Selepas dari patirtan Ratu Dalem Watu Renggong, persembahyangan kita lanjutan pada Ganeca yang patungnya begitu besar menghadap ke laut, seakan – akan beliau siap menjaga keselamatan dari ancaman bahaya dari luapan air laut. Nah disini pemangku mengajak umat bersembahyang dengan cara yang sedikit berbeda dari biasanya yang mengginakan aturan panca sembah. Persembhyangan pertama dengan menguncarkan mantra OM seganyak 3 kali, berikutnya mantram Gayatri sebanyak 3 kali, terus mantram OM Nama Siwa 3 kali kemudian diakhiri mantram parama santih 3 kali. Persembahyangan dilakukan dari belakang patung Ganeca, kemudian setelah dapat tirta, dupa yang habis dipakai sembahyang diambil pemangku untuk ditaruh depan altar, para bhakta diarahkan untuk sungkem dan mencium kaki Ganesa pertanda persembahyangan usai.
Mentari semakin condong menuju Sun-set, angin semilir suara ombak mewarnai perjalanan menaiki melanjutkan persembahyangan di patirtan Dewi Parwati, yang letaknya paling pojok lereng bebatuan karang laut,  didepan pelinggih dihiasi bale bengong yang menambah suasana semakin tampak asri dan mengesankan. Persembahyangan disini tidak dienter oleh pemangku, akan tetapi saya yang memimipinnya dengan diawali Trisandya. Suara cicakpun menambah suasana sembahyang makin khusuk dan mengesankan, tenang, damai, sentosa terasa saat itu. Setelah sembahyang kita keluar dari altar, ternyata sudah ditunggu oleh menjangan betina. Saya coba berikan makan jajan, menjanganpun menerima dan mau memakan dengan lahapnya. Karena pengambilan gambar foto beberapa kali, akhirnya dia mundur dan menjauh dari kita.
Dengan menuruni tangga pelataran pura, kita menuju pura yang berposisi ditengah areal daerah pulau menjangan. Suasana sudah nerawang mulai samar-samar jelang sandyakala. Dengan langkah yang santai kita penuh waspada karena jalan tidak begitu rata, dipenuhi kerikil karang dan duri dikanan kiri jalan, kita berlima menuju pura tersebut. Didepan pura kita bertemu dengan Jro Bendesa, Bli Jo dan nyoman Alit Ardana, mereka akan balik dari pura menuju tempat rehat. Gulita suasana ditengah pura, dengan menyalakan dupa, trus maturan banten iyunan dan canang, tokek mulai bersuara sepertina berucap Wellcome to Pura. Setelah ngayaban banten, kita bersama sembahyang diawali dengan Trisandya kemudian Panca sembah. Setelah matirta dan bija selanjutnya kita berlima melakukan Purwa Daksina (berkeliling di seputaran pelinggih dengan arah jarum jam sebanyak  3 kali) dan sungkem di pelataran gedong . Kita duduk kembali kemudian kita pancarkah doa cinta kasih kepada jagat semesta . sehabis itu menikmati prasadam (surudan) tiba-tiba kita tengadah keatas melihat keindahan bintang di langit. Ternyata tampaklah gugusan bintang membentuk tanda jantung (Love) dua gugus atas dan bawah . disini nampak bahwa semesta memberi tanda pada kita bahwasanya ketika kita datang dengan persembahan Cinta Kasih, maka Alampun memberi ciri perlambang gugusan bintang berbentuk tanda Jantung, oh luar biasa seru kita semua sembari makan surudan(prasadam)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar