TIRTA YATRA KE PURA
“TIRTA PINGIT “ BESAKIH
( Tilem, 9 Mei 2013 )
OM, Swastyastu,
“OM
Ano Badrah Kratawo Yanthu Wisvatah”
Baiklah kita awali dari pengertian
“Tirta Yatra” yang terdiri dari dua kata, yaitu Tirta dan Yatra. Tirta
mengandung makna pilosofis Air Suci,
sementara Yatra bermakna Perjalanan.
Secara sederhana dapat diartikan bahwa Tirta
Yatra adalah “Perjalanan Suci”. Perjalanan yang dimaksudkan yaitu Napak Tilas
jejak para suci yang telah duluan menemukan tempat yang nyaman, damai mengandung energi kesucian. Di
tempat tersebutlah beliau menemukan nilai kesadaran kesucian sehingga tempat
itu dipakainya tempat meditasi. Biasanya tempat seperti itu ditancapkan sesuatu
sebagai tonggak bahwa tempat tersebut memang mengandung energi spiritual kesucian.
Demikian halnya tempat atau daerah yang dituju ini merupakan jejak Maha Yogi
Markandya yang mendirikan Pura Besakih. Awalnya dari tempat yang bernama Tirta
Pingit inilah beliau bertapa/meditasi / semadi untuk membuat
konsep/model/design dari Pura Besakih. Dengan kemampuan meditasinya yang kuat
serta dari kehendak Hyang Widhi, maka deisgn Pura Besakih dapat terwujud yaitu
Konsep Asta Dala ( seperti kelopak Bunga Teratai) yang sarinya berkonotasi
sebagi Padma Tiga, untuk penghayatan Bhur,
Bwah, Swah dengan kekuatan energi dewatanya : Siwa,Sadha Siwa dan Parama Siwa.
Kembali ke masalah
Tirta Yatra, mengapa kita yang beragama Hindhu diharapkan melakukan Tirta
Yatra? Itu tiada lain bermakna bahwa kita diharapkan selalu menyadari bahwa
manusia itu pada dasarnya “SUCI”( karena
manusia itu sejatinya Atma ). Namun karena kita sering lupa dan bahkan
terlalu condong pada kehidupan duniawi, sering melupakan hakiki diri kita yang
sejati, maka salah satu jalan untuk
kembali ke kesadaran suci yaitu dengan jalan Tirta Yatra ataupun Dharma
Yatra.
Melaksanakan Tirta Yatra bukanlah
sekedar datang ke tempat suci/Pura dengan membawa sesajen/banten kemudian
sembahyang lalu pulang. Sepatutnya Tirta Yatra itu dikonsepkan dalam pikiran
kita bahwa kita datang dan kembali membawa energi kesucian itu sendiri, dalam
artian mereka yang datang mesti membawa nilai-nilai kesucian kemudian pulang
dari Tirta Yatra bertambah Suci kembali. Bagai sebuah batrae yang lemah
kemudian di charge kembali.
Sering menjadi perbincangan,
bagaimana sikap laku kita dalam melaksanakan patirta yantran? Inilah yang perlu
kita sedikit pahami sehingga kita tidak menjadi rugi menghabiskan waktu
perjalanan dan tidak sedikitpun terjadi peningkatkan spiritual kesucian kala
melakukan Tirta Yatra. Baiklah kita mulai dari penentuan hari baik melakukan
Tirta Yatra, yaitu sebuah hari yang secara baik dan umum melakukan Tirta Yatra
yakni : Purnama, Tilem, Anggar Kasih, atau hari Piodalan dari tempat suci yang
dituju, ataupun hari-hari baik lainnya yang bersamaan dengan kesiapan mental
kita untuk melakukannya. Kemudian diniatkan secara utuh, penuh kesadaran bahwa
kita akan melaksanakan Tirta Yatra. Dengan menjaga pikiran kita tetap teguh dan
yakin akan napak tilas perjalanan suci yang sudah kita rencanakan, jangan hendaknya
hanya iseng belaka. Karena dengan cara kita yang iseng saja, maka kita tidak
akan meraih menfaat apa-apa. Dalam perjalanan kita menuju tempat yang kita
yakini itu, sebaiknya kita menjaga pikiran, perkataan dan perilaku selalu dalam
koridor keheningan, kedamaian dan kesucian bathin. Jangan hendaknya berpikir
negatif bila perlu kita lakukan Japa(
misalnya mengulang-ulang kata”OM” atau OM Nama Siwa , atau OM
Namo Budha, ataupun setiap tarikan napas kita ucapkan “SO” dan buang napas
dengan “HAM” ) mungkin juga japa Gayatri Mantram sesuai dengan yang kita bisa
dan nyaman lakukan. Kemudian sebisanya kita kendalikan perkataan kita dengan
tidak berkata kasar, berkata kotor, bercerita yang tidak sepantasnya kita
ceritakan. Selanjutnya prilaku perjalan yang kita lakukan dalam tindakan kaki
yang penuh disadari, bukan berjalan serampangan. Setiap langkah kaki kiri kita
sadari, demikian juga langkah yang kanan sadar penuh. Itu disebut Meditasi
Jalan. Sesampainya di altar atau jaba tengah tempat suci/Pura, kita benar-benar
konsentrasi dari masuk ke pura sampai dalam menyiapkan sarana persembahan.
Tidak perlu grasa-grusu, lakukan semua dengan keheningan, keiklasan, kedamaian.
Selanjutnya saat menaruh dan melakukan persembahan sesajen/banten iklaskan
secara total bahwa itu persembahan, niat awal jangan mengharap surudannya akan
kita ambil kembali, jangan takut ada salah satu jajan atau buah banten akan
dimakan binatang, itu iklaskan karena sudah merupakan bentuk kemurnian sebuah
persembahan. Inilah dasar melakukan Yadnya
yang tepat. Karena yadnya itu berarti persembahan tanpa mengikat dan mengharap apapun pada diri sendiri.
Selanjutnya setelah melakukan
persembahan berupa ngaturn Canang atau Banten, maka carilah tempat duduk yang
tenang, nyaman, aman, tanpa saling mengganggu. Disini sudah mulai Mona
Brata(mengurangi pembicaraan, kalau bisa suara yang keluar hanya suara Sepi,
Hening bagai suara genta sang wiku). Sebisanya lakukan keheningan diri dalam
perenungan diri, kontemplasi atau meditasi. Mohonkan kepada yang menemukan tempat
suci ini agar kita diijinkan untuk dapat menikmati kesucian seperti yang beliau
rasakan saat beliau rasakan sejak awal ditemukannya tempat itu, sampai saat
kini sebagai tempat suci.
Mungkin Doa yang sederhana ini
dapat dipancarkan di tempat dimana kita lakukan Tirta Yatra yaitu :
OM, Hyang Widhi
Dengan cinta kasih hamba datang bersujud dikaki padmamu, terimalah doa
kami yang sederhana ini : Semoga Hyang Widhi… Damai, Semoga Para Dewa… Damai,
Semoga Guru-Guru Agung dan Para Nabi… damai, Semoga semua Leluhur… damai,
Semoga semua Makhluk Hidup …damai dan Semoga Alam Jagat Semesta… damai,
Japakan berulang-ulang sesuai
kemampuan“ OM
Loka Samasta Sukino Bhawantu”
Setelah melakukan Doa perenungan
dalam Meditasi, lanjutkan dengan tata cara persembahyangan Panca Sembah yang
biasa dilakukan tiap persembahyangan. Seterusnya nunas Tirta dan Bija(benih
kesucian Pikiran, benih kesucian Perkataan dan benih kesucian Prilaku). Inilah
inti dari napak tilas perjalanan penuh kesadaran yang sering dikenal dengan Tirta Yatra. Selanjutnya setelah kita
mengakhiri persembahyangan, kita boleh mengambil tempat yang sesuai untuk kita
istirahat dan berdiskusi tentang spiritual, dengan catatan tetap pada koridor
dan tatanan keheningan dan kesucian dalam pilosofi Tri Kaya Pari Sudha, Sembari menikmati bekal yang kita telah
sediakan. Semoga setiap perjalanan Tirta Yatra dapat mengembalikan nilai-nilai
Kesucian dalam diri kita masing-masing.
Sehingga tubuh/badan dan roh itu menjadi tanah dan tempat suci (Our bodhy, Mind
an Soul is our holly Temple)
OM, Asato ma Sad Gamaya,
Tamasyo ma Jyotir Gamaya
Mrytyor ma Amrytham Gamaya.
Sabbe Satta Bhavantu sukitatta
OM, Santih, Santih,Santih, OM
Kuta,
4 Mei 2013
Oleh: I Nyoman Musna
Tidak ada komentar:
Posting Komentar