Minggu, 02 Februari 2014

Tirta Pingit



TIRTA YATRA KE  PURA
“TIRTA PINGIT “ BESAKIH

( Tilem, 9 Mei 2013 )

OM, Swastyastu,      
“OM Ano Badrah Kratawo Yanthu Wisvatah”
Baiklah kita awali dari pengertian “Tirta Yatra” yang terdiri dari dua kata, yaitu Tirta dan Yatra.  Tirta mengandung makna pilosofis Air Suci, sementara Yatra bermakna Perjalanan. Secara sederhana dapat diartikan bahwa Tirta Yatra adalah “Perjalanan Suci”.  Perjalanan yang dimaksudkan yaitu Napak Tilas jejak para suci yang telah duluan menemukan tempat yang  nyaman, damai mengandung energi kesucian. Di tempat tersebutlah beliau menemukan nilai kesadaran kesucian sehingga tempat itu dipakainya tempat meditasi. Biasanya tempat seperti itu ditancapkan sesuatu sebagai tonggak bahwa tempat tersebut memang mengandung energi spiritual kesucian. Demikian halnya tempat atau daerah yang dituju ini merupakan jejak Maha Yogi Markandya yang mendirikan Pura Besakih. Awalnya dari tempat yang bernama Tirta Pingit inilah beliau bertapa/meditasi / semadi untuk membuat konsep/model/design dari Pura Besakih. Dengan kemampuan meditasinya yang kuat serta dari kehendak Hyang Widhi, maka deisgn Pura Besakih dapat terwujud yaitu Konsep Asta Dala ( seperti kelopak Bunga Teratai) yang sarinya berkonotasi sebagi Padma Tiga, untuk penghayatan Bhur, Bwah, Swah dengan kekuatan energi dewatanya : Siwa,Sadha Siwa dan Parama Siwa.
            Kembali ke masalah Tirta Yatra, mengapa kita yang beragama Hindhu diharapkan melakukan Tirta Yatra? Itu tiada lain bermakna bahwa kita diharapkan selalu menyadari bahwa manusia itu pada dasarnya “SUCI”( karena manusia itu sejatinya Atma ). Namun karena kita sering lupa dan bahkan terlalu condong pada kehidupan duniawi, sering melupakan hakiki diri kita yang sejati,  maka salah satu jalan untuk kembali ke kesadaran suci yaitu dengan jalan Tirta Yatra ataupun Dharma Yatra.
Melaksanakan Tirta Yatra bukanlah sekedar datang ke tempat suci/Pura dengan membawa sesajen/banten kemudian sembahyang lalu pulang. Sepatutnya Tirta Yatra itu dikonsepkan dalam pikiran kita bahwa kita datang dan kembali membawa energi kesucian itu sendiri, dalam artian mereka yang datang mesti membawa nilai-nilai kesucian kemudian pulang dari Tirta Yatra bertambah Suci kembali. Bagai sebuah batrae yang lemah kemudian di charge kembali.
Sering menjadi perbincangan, bagaimana sikap laku kita dalam melaksanakan patirta yantran? Inilah yang perlu kita sedikit pahami sehingga kita tidak menjadi rugi menghabiskan waktu perjalanan dan tidak sedikitpun terjadi peningkatkan spiritual kesucian kala melakukan Tirta Yatra. Baiklah kita mulai dari penentuan hari baik melakukan Tirta Yatra, yaitu sebuah hari yang secara baik dan umum melakukan Tirta Yatra yakni : Purnama, Tilem, Anggar Kasih, atau hari Piodalan dari tempat suci yang dituju, ataupun hari-hari baik lainnya yang bersamaan dengan kesiapan mental kita untuk melakukannya. Kemudian diniatkan secara utuh, penuh kesadaran bahwa kita akan melaksanakan Tirta Yatra. Dengan menjaga pikiran kita tetap teguh dan yakin akan napak tilas perjalanan suci yang sudah kita rencanakan, jangan hendaknya hanya iseng belaka. Karena dengan cara kita yang iseng saja, maka kita tidak akan meraih menfaat apa-apa. Dalam perjalanan kita menuju tempat yang kita yakini itu, sebaiknya kita menjaga pikiran, perkataan dan perilaku selalu dalam koridor keheningan, kedamaian dan kesucian bathin. Jangan hendaknya berpikir negatif bila perlu kita lakukan Japa( misalnya mengulang-ulang kata”OM” atau OM Nama Siwa , atau OM Namo Budha, ataupun setiap tarikan napas kita ucapkan “SO” dan buang napas dengan “HAM” ) mungkin juga japa Gayatri Mantram sesuai dengan yang kita bisa dan nyaman lakukan. Kemudian sebisanya kita kendalikan perkataan kita dengan tidak berkata kasar, berkata kotor, bercerita yang tidak sepantasnya kita ceritakan. Selanjutnya prilaku perjalan yang kita lakukan dalam tindakan kaki yang penuh disadari, bukan berjalan serampangan. Setiap langkah kaki kiri kita sadari, demikian juga langkah yang kanan sadar penuh. Itu disebut Meditasi Jalan. Sesampainya di altar atau jaba tengah tempat suci/Pura, kita benar-benar konsentrasi dari masuk ke pura sampai dalam menyiapkan sarana persembahan. Tidak perlu grasa-grusu, lakukan semua dengan keheningan, keiklasan, kedamaian. Selanjutnya saat menaruh dan melakukan persembahan sesajen/banten iklaskan secara total bahwa itu persembahan, niat awal jangan mengharap surudannya akan kita ambil kembali, jangan takut ada salah satu jajan atau buah banten akan dimakan binatang, itu iklaskan karena sudah merupakan bentuk kemurnian sebuah persembahan. Inilah dasar melakukan Yadnya yang tepat. Karena yadnya itu berarti persembahan tanpa mengikat  dan mengharap apapun pada diri sendiri.
Selanjutnya setelah melakukan persembahan berupa ngaturn Canang atau Banten, maka carilah tempat duduk yang tenang, nyaman, aman, tanpa saling mengganggu. Disini sudah mulai Mona Brata(mengurangi pembicaraan, kalau bisa suara yang keluar hanya suara Sepi, Hening bagai suara genta sang wiku). Sebisanya lakukan keheningan diri dalam perenungan diri, kontemplasi atau meditasi. Mohonkan kepada yang menemukan tempat suci ini agar kita diijinkan untuk dapat menikmati kesucian seperti yang beliau rasakan saat beliau rasakan sejak awal ditemukannya tempat itu, sampai saat kini sebagai tempat suci.
Mungkin Doa yang sederhana ini dapat dipancarkan di tempat dimana kita lakukan Tirta Yatra yaitu :
OM, Hyang Widhi
Dengan cinta kasih hamba datang bersujud dikaki padmamu, terimalah doa kami yang sederhana ini : Semoga Hyang Widhi… Damai, Semoga Para Dewa… Damai, Semoga Guru-Guru Agung dan Para Nabi… damai, Semoga semua Leluhur… damai, Semoga semua Makhluk Hidup …damai dan Semoga Alam Jagat Semesta… damai,
Japakan berulang-ulang sesuai kemampuan“ OM Loka Samasta Sukino Bhawantu”
Setelah melakukan Doa perenungan dalam Meditasi, lanjutkan dengan tata cara persembahyangan Panca Sembah yang biasa dilakukan tiap persembahyangan. Seterusnya nunas Tirta dan Bija(benih kesucian Pikiran, benih kesucian Perkataan dan benih kesucian Prilaku). Inilah inti dari napak tilas perjalanan penuh kesadaran  yang sering dikenal dengan Tirta Yatra. Selanjutnya setelah kita mengakhiri persembahyangan, kita boleh mengambil tempat yang sesuai untuk kita istirahat dan berdiskusi tentang spiritual, dengan catatan tetap pada koridor dan tatanan keheningan dan kesucian dalam pilosofi Tri Kaya Pari Sudha, Sembari menikmati bekal yang kita telah sediakan. Semoga setiap perjalanan Tirta Yatra dapat mengembalikan nilai-nilai Kesucian dalam diri  kita masing-masing. Sehingga tubuh/badan dan roh itu menjadi tanah dan tempat suci (Our bodhy, Mind an Soul  is  our  holly Temple)
OM, Asato ma Sad Gamaya,
Tamasyo ma Jyotir Gamaya
Mrytyor ma Amrytham Gamaya.

Sabbe Satta Bhavantu sukitatta
OM, Santih, Santih,Santih, OM
                                                                                                Kuta, 4 Mei 2013
Oleh: I Nyoman Musna

Tidak ada komentar:

Posting Komentar