Minggu, 12 Januari 2014

PENCERAHAN LEWAT PUISI



MENCARI PENCERAHAN LEWAT PUISI
           
            Hampir disetiap obrolan, entahkah itu bersifat senda gurau atau sedang membicarakan sesuatu yang sifatnya serius. Satu ketika munculah pertanyaan yang sifatnya celotehan  dari seseorang. Pertanyaan yang paling sering keluar  yaitu “ Sebenarnya untuk apasih kita lahir kedunia”?, toh apapun yang kita miliki berupa kekayaan  tidak akan pernah kita bawa sampai saat kematian tiba. Dengan begitu seringnya pertanyaan serupa muncul dari obrolan di masyarakat. Tidak jarang pula pertanyaan yang sama datang dari pebisnis yang sudah mapan, dari guru, agamawan, serta dari mereka yang menekuni jalan spiritual. Adakah pertanyaan semacam itu  merupakan sebuah jalan menuju kesadaran rohani?. Sepertinya demikian adanya. Mereka yang telah sampai pada batas akhir penggunaan logika dan telah mendapat pemenuhan rasa dibidang materi, maka mulailah muncul pertanyaan seperti siapa saya, dari mana saya, kemana saya dan seterusnya. Para kawi wiku tidak jarang menggoreskan pertanyaan serupa kedalam sebuah lontar berupa puisi. Bolehlah kita sebut tulisan demikian itu puisi kesadaran menuju pencerahan.
            Saking seringnya pertanyaan tentang diri muncul dari sahabat-sahabat, maka sayapun mencoba mengguratkan pena pada satu ketika dalam beberapa puisi bali. Satu di iantaranya berjudul “ Petakon” (pertanyaan) seperti ini;
Jro, …ngudiang mai /Apa sane bakal alih dini / Nyen ajak mai /
kenken mawinan dados jro teka mai / jro teka uli dija / terus…, wusan dini /
 lakar kija malih lantur pejalane / apake sube ngabe sunar / anggen nyuluh dewek /
apang tusing kepetengan / sawireh dini peteng dedet / matane peteng pitu /
ulian saru ane tuju / elingan / suara rasane ane tekekang ngisi / anggon tungked
ngatehang dewek / yening mapamit budal//. terjemahannya : hai kamu, mengapa kesini / apa yang akan kamu cari disini / siapa yang diajak kesini / kenapa kamu bisa kesini / kamu datang dari mana / trus, sehabis disini / mau kemana melanjutkan perjalanannya / apakah sudah membawa lentera / untuk menyinari diri / biar tidak kegelapan / sebab disini gelap gulita / mata digelapkan tujuh kegelapan / karena kegelapan yang tertuju / ingatlah / suara hati yang dipegang kuat / pakai tongkat menuntun diri / jika kembali pulang//.
              Mungkin puisi bali yang saya tulis itu mewakili pertanyaan sahabat yang pernah terlontar lewat obrolan disatu ketika. Seterusnya mungkin akan muncul pertanyaan dalam benak kita. Apakah kita telah kehabisan akal didalam menghadapi permasalahan  kehidupan ini? Kemudian kita menjadi pasrah diri atas ketidak berdayaan kita?. Ataukah pertanyaan semacam itu muncul memang datang karena kesadaran rohani kita malai naik menuju ke level pencerahan diri?. Sejatinyanyalah pertanyaan semacam itu adalah hal yang wajar bagi setiap kita yang mulai tumbuh kesadaran rohani. Mungkin selanjutnya akan muncul pertanyaan lebih mendalam seperti Siapakah aku ini?, darimana asal muasal ku? dan seterusnya.
            Selanjutnya puisi berikut adalah sebuah puisi yang berkisah tentang suatu kehidupan yang hanya mengejar kesenangan. Senang untuk mencari kepuasan yang bersifat lahiriah. Sebuah  Puisi bali yang saya beri judul “ Melali” (berjala-jalan.)
Uli makelo suba melali ngalih demen/ Tusing ja waneh kema mai melali/Wantah ngalih isin demen/Telah suba baan nunggah gununge/Pasih suba telah bakat langiyang/Gumine masih suba telah bakat enjekin/Langite masih sube sesai bakat tolih/Masih ja tusing med melali ngalih demen/Sujatine dija ke tongos demenne?/Wantah ja demen ento nongos di kenehe/
Keneh demen maan suka/Keneh sebet maan duka/Keneh lara maan sengsara/Sujatine tusing ja ngalih demen sane patut/Sane kepatutan  wantah bagia sane ruruh/Tongosnye ditu ditengahing rasa/Mengkeb ring tengahing ati/Atine sane santih//.  Terjemahannya; sudah lama berjalan-jalan mencari kesenangan/ tidaklah bosan kesana kemari berjalan-jalan/hanya mencari isi kesenangan/habislah semua gunung didaki/ lautpun habis  diberenangi/ dunia telah kita jejaki/ langit sudah habis  ditoleh/ kan tetapi belum bosan jalan-jalan mencari kesenangan/ sejatinya dimana tempat kesenangan itu?/ hanyalah kesenangan itu ada pada pikiran/ pikiran senang dapat suka/ pikiran sidih dapat duka/ pikiran lara dapat sengsara/ sejatinya bukan mencari kesenangan yang benar/ sepatutnya kebahagiaanlah yang dicari/ tempatnya disitu ditengah rasa/ sembunyi didalam hati/ hati yang damai//.
            Puisi yang berjudul melali itu menyiratkah bahwa, bila dalam kehidupan ini hanya untuk mengejar kesenangan, maka akan jauh dari tujuan hidup yang sejati yaitu kebahagian dan kedamaian.
Kerena dengan mengejar kesenangan tidak jarang dapat bertemu dengan duka, bahkan sengsara. Bila semakin jauh kita tenggelam dalam pengejaran kesenangan yang bersifat badaniah, maka kebahagiaan rohani semakin menjauh. Kesadaran yang bertumpu pada pencerahan menekankan pada keseimbangan  kebutuhan lahir dan batin. Kesenangan itu bersifat pemuasan sementara bagi sang ego, sementara kebahagiaan dan kedamaian  meluluh kedalam batin. Bagi mereka yang telah mampu menjaga  diri dalam kesimbangan lahir dan batin akan merasakn keindahan dualitas (beauty of rwa bhineda). Seperti yang tampak dikebun bunga yang sering dinyanyikan anak-anak mawar melati semuaya indah.
            Apabila pertanyaan-pertanyaan kedalam diri  semakin mendalam, maka bait puisi ini dapat dipakai acuan dalam menguak tabir kebimbangan itu. Puisi yang berjudul :Nyuluh raga.( bersuluh pada diri) seperti tergurat :
Suluh-suluhin ragane, apang tusing engsap nyuluhin dewek / Tolih-tolihin ragane,apang tusing engsap nolih dewek / Inget-ingetang ragane, apang terus inget teken dewek /De bes liu melali, apang tusing kaiket baan lali / Tutur-tutur ragane, apang tusing engsap nuturang dewek / Paek-paekan ragane apang tusing engsap maekan dewek / De ngedoh teken ragane  apang tusing doh teken dewek/ Entungan tali iketanne, apang tusing terus kaiket dening to ya ane puket //. Terjemahannya yaitu suluh-suluhlah dirimu, agar tidak lupa bersuluh diri / lihat-lihatlah dirimu, agar tidak lupa menoleh diri / ingat-ingatkan dirimu, agar terus ingat sama diri / jangan terlalu banyak bepergian, agar tidak terikat oleh lupa / tutur-tuturkan dirimu, agar tidak lupa nuturkan diri / dekat-dekati dirimu agar tidak lupa mendekatkan diri / jangan jauh dengan dirimu, agar tidak jauh dengan diri / lepaskan tali ikatannya, agar tidak terus diikat oleh itu yang kotor.
                        Untaian bait – bait syair diatas  mengisyaratkan pada kita untuk selalu terjaga dan eling pada kesejatian diri sebagai sang Diri. Keterlupaan  diri kepada diri yang sejati membuat keterikatan mendalam pada kondisi kemayaan. Dari pada itu, jangan terlalu jauh bepergian hingga mengikatkan diri pada materi semata. Lepaskan tali keterikatan diri akan semua hal yang bersifat maya, agar nilai yang bersifat  kotor dan keruh tidak menempel pada sang diri.  Seperti sabda sang tercerahkan  Budha Gautama “ Kosong itu berisi, yang berisi itu kosong”. Adakah selama ini dan seterusnya akan bergelut dengan kekosongan tanpa makna?. Mari cari jawabannya dalam bait-bait puisi diri  sembari menyelam dalam diri yang sejati. SEMOGA HIDUP SEMAKIN TERCERAHKAN.

                                                                                                            I Nyoman Musna

RENUNGAN SIWA RATRI,2014



Renungan Siwa Ratri,29-1-2014

SAPTA MANDALA SARIRA
(Tujuh lapisan Kesadaran dalam diri)

Hormat kepada guru-guru Agung,

            Sang maha kawi Mpu Tanakung adalah seseorang yang telah mampu terlepas dari keterikatan duniawi (tan = tidak; akung = terikat). Pada malam Siwa melakukan peningkatan kesadaran spiritual dari kesadaran rendah(binatang) menuju kesadaran kelepasan(moksa) melalui jalan Tapa,Brata,Yoga dan Semadhi. Beliau membuat sebuah goresan lembut- halus perjalanan memahami kesadaran dirinya secara mendalam lewat meditasi ke dalam diri melintasi mandala-mandala yang tersusun rapi dalam energi halus pada tubuh astral sendiri. Perjalanan pendakian spiritualnya sang pelakon kisah Lubdhaka (Lubdha = Loba dan kebodohan) menuju ke kesadaran yang terang menderang membahagiakan (Siwa). Dari perjalanan yang halus lembut ini tergores sebuah cerita spiritual Malam Siwa Ratri. Pendakian spiritual kedalam diri melintasi cakra-cakra(energi halus) yang tersembunyi di dalam badan.
  
            Seperti pada Bhuwana Agung terdapat tujuh mandala(undakan) seperti : Bhuh, Bhwah, Swah, Mahah, Janah , Tapah , Satyah. Pada Bhuwana Alit juga terdapat 7 undakan atau lapisan kesadaran yang mencirikan sifat-sifat manusia itu sendiri. Ke-tujuh lapisan keasadaran itu adalah (1)Mandala Kasungka, (2)Mandala Seba, (3)Mandala Raja, (4)Mandala Wening, (5)Mandala Wangi, (6)Mandala Agung (7)Mandala Hyang.

            Mandala Kasungka,(ada pada Cakra Muladhara di daerah sex,aura warna merah) merupakan undakan paling bawah / dasar , mencirikan bahwa manusia itu masih terikat oleh Sad Ripu dan Sapta Timira. Mereka yang berada pada Mandala dasar ini masih memiliki sifat-sifat binatang. Makan, minum, tidur selalu berlebihan. Memenuhi nafsu merupakan dasar kesadaran hidupnya. Hidupnya selalu berkeinginan berkuasa, mau menang sendiri tanpa peduli orang lain.

            Mandala Seba,(pada Cakra Svadisthana di limpa, aura warna orange)  merupakan undakan nomor dua, berarti manusia selalu berpikir demi dan untuk diri sendiri saja. Memenuhi perut sendiri, sementara tidak pernah memikirkan orang lain diluar dirinya. Mereka yang berada pada mandala ini masih jauh dari yang namanya memahami kehidupan orang lain. Mereka hanya menghargai diri sendiri, dan tidak pernah peduli pada kehidupan orang lain, selalu menumpuk dan memupuk  mekayaan untuk diri sendiri. Orang semacam ini selalu ingin minta dihargai, namun tidak pernah menghargai orang lain.

            Mandala Raja,( pada Cakra Manipura di empedu,aura warna kuning) merupakan undakan yang ke tiga, tiada lain adalah mereka yang telah memahami kesadaran kebenaran dan kebijaksanaan antara kata dan tindakan. Mereka yang sudah sampai pada mandala ini tujuan dari hidupnya hanya mencari kesentosaan hidup dan kesentosaan hidup orang lain. Mereka yang ingin menjadi pemimpin sepatutnya mengetahui mandala ini. Mereka yang berada pada mandala ini sudah memahami kesejahteraan orang lain tanpa mendahulukan kepentingan pribadinya.

            Mandala Wening,( pada Cakra Anahata ada di Jantung,aura warna hijau) yaitu merupakan mandala (undakan) ke- empat yaitu bagi mereka yang telah memahami nilai Cinta Kasih dan Kasih Sayang semua Makhluk. Tiada pernah berhenti untuk membuat orang lain  damai dan bahagia. Siapa  yang sudah sampai pada mandala ini tidak lagi mendahulukan kekuasaan dan mengumpulkan artha hanya untuk kebutuhan hidupnya saja. Tidak lagi melakukan kegiatan yang berlebihan(hura-hura), mengumbar kemampuan diri, memasalahkan klan/warna dalam kehidupan. Karena dalam pemahaman hidupnya bukan itu yang menjadi inti sari pemikirannya.


            Mandala Wangi,(Cakra Visuddha pada tenggorokan,aura warna biru) merupakan undakan ke- lima. Mereka yang sudah sampai pada mandala ini dalam hidup dan kehidupannya selalu berdasar pada landasan Dharma. Dimana dan kapanpun perilakunya selalu berdasarkan dharma atau kebenaran. Bukan karena suatu agama, bukan pula karena suatu warna, akan tetapi memang dasar kehidupannya selalu memulyakan dharma itu sendiri. Dharmalah yang memenuhi tubuh, pikiran dan rasa pada dirinya. Memiliki keteguhan mental dalam spiritual.

            Mandala Agung,( cakra Agnya di antara kedua alis,aura warna nila ) merupakan mandala ke-enam. Dimana pada mandala agung ini manusia yang tidak lagi membicarakan tentang warna, klan, ras, tidak ada lagi rasa perbedaan antara yang satu dengan orang lainnya. Disini mereka menyadari manusia adalah sama(Tatwam Asi). Yang menjadi inti hidupnya adalah kebahagian hidup sebuah negara, bangsa serta kebahagian hidup secara keseluruhan di muka bumi ini. Hanya kebahagiaan dan kesejahteraan hidup semua makhluk yang menjadi tujuan hidupnya. Dapat menguasai diri, penuh ilham dan bijaksana mendalam.

            Mandala Hyang,( Cakra Saharara adanya di ubun-ubun,aura warna ungu ) mandala ini yang paling utama(luhur). Mandala Hyang merupakan puncak kesadaran pada diri manusia. Tingkat pencapaian rohani dengan ilahi, kesadaran kosmis. Mandala ini merupakan kesadaran manusia untuk memahami kesujatian diri. Pada mandala ini manusia memahami satu kesatuan antara Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit. Pada kesadaran ini manusia hanya memikirkan kesadaran kemanunggalan antara Atma dan Paramatma(sangkan paraning dumadi). Menuju tempat kesadaran suci panunggalan dengan Maha Agung yang disebut Moksa(moksartam jagadhita). Terbebas dari keterbelengguan oleh hal kesenangan maya jagat ini menuju kebahagiaan yang Maha Agung Sempurna.

            Hidup dalam kehidupan merupakan  pembelajaran menuju jalan kesadaran dan kebijaksanaan guna meraih kebahagiaan abadi sanatana dharma. Sang Lubdaka mengisyaratkan kehidupan  yang dipenuhi dengan Papa-Klesa menuju kebahagian sejati (Siwa). Tatwa ini tertuang dalam karya sastra spiritual “Siwa Ratri Kalpa”(dari kegelapan menuju terang sejati Maha terang, dari a-widya menuju widya).
Sabbe Satta Bhavantu Sukitatta, Semoga semua makhluk berbahagia.
                          OM,  Asato ma Sadgamaya
                                    Tamasyo ma Jyotir gamaya
                                    Mrtyor ma amhritam gamaya
                        Semoga dari kebodahan menuju kesadaran,
Semoga dari kesadaran menuju terang bijaksana
Semoga  dari terang bijaksana menuju Keabadian
            OM, Anobaddrah Kratawo yanthu visvatah
Semoga pikiran bersih dan suci datang dari segala penjuru
Menerangi hati yang gelap untuk meraih Terang sujati.
N.Musna, suwung ,5.1.14
 
                
                                                           OM NAMA SIWA YA
                                                        OM NAMO BUDHA YA

                                 

Selasa, 18 Desember 2012

misteri kematian



MISTERI KAMATIAN

                        Setiap yang hidup akan mengalami kematian.
                        Tiada satupun kehidupan yang dapat terbebas dari kamatian
                        Adakah kehidupan setelah kematian?

            Pada suatu ketika seorang sahabat melontarkan kata seperti ini; “Untuk apa saya dilahirkan, padahal saya tidak berniat hidup”. Karena hidup bagiku penderitaan. Demikian celoteh yang keluar dari orang itu. Entah itu karena mengalami defresi atau lagi mengalami rasa putus asa. Banyak orang berpendapat bahwa hidup ini bersifat ironis, karena manusia tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Akan tetapi setelah lahir, mencintai hidup dan kehidupan meski dihadapkan pada realitas yang pahit dalam hatinya. Manusia sendiri aka dihadapkan pada batas akhir hidupnya, yang senang atau yang tidak senang harus melewati batas masa hidupnya, itu mesti dilalui dalam kehidupan. Goethe pernah mengatakan bahwa : “ Death is something so stranger that in spite of our experience of it, we do not think it is possible for those we cheris; it always suprises us as something unbelievable and paradoxal”. Kematian pada dasarnya semua orang tahu, merupakan kewajaran hidup. Karena mati merupakan pasangan hidup. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian. Akan tetapi tidak setiap orang tahu kapan hari dan waktu kematian akan tiba. Kematian akan datang pada kita bagai sambaran kilat. Pada saat kematian tiba tak seorangpun dapat menghentikannya. Pada satu saat seorang sahabat yang baru habis main bulu tangkis terus sesak napas dan akhirnya meninggal setelah dibawa ke rumah sakit. Salah seorang teman agak emosi serta melontarkan pertanyaan” kenapa dokter tidak dapat menyembuhkan, padahal teman kita itu baru saja masih benapas” guman teman itu. Kematian  mejadi dramatis, apalagi kalau peristiwa itu terjadi pada diri kita, saudara, orang tua, anak yang amat kita sayangi. Meski setiap orang telah memahami bahwa kelahiran akan berakhir dengan kematian. Akan tetapi pada saat seperti itu datang, tidak semua orang dapat menerima sebagai sebuah kewajaran. Tetap saja rasa sedih akan menyelimuti hati kita. Kamatian berarti keterpisahan antara badan kasar dengan Atma(unsur penyebab hidup). Terpisahnya badan kasar sebagai materi dengan Atma begitu tak terukur dan tak terbatas jaraknya. Semakin dekat jarak fisik dan emosi kita terhadap badan kasar, maka semakin sulit menerima keterpisahan ini. Semakin jauh emosi kita pada terikat terhadap materi badan, akan terasa kematian itu sebagai yang wajar. Meskipun demikian, bagi kebanyakan orang akan menerima kematian itu sebagai sebuah nasib. Terkadang amat sulit untu diterima akan  tetapi sulit pula untuk dielakan.
            Pertanyaan manusia,  akan kemanakah setelah kematian? Memang sulit untuk dijawab. Bahkan kematian itu masih merupakan misteri. Sehingga muncul rasa kecemasan dan ketakutan menunggu saat kematian. Peristiawa hidup dan mati merupakan fakta esensial serta sekaligus melibatkan seluruh kedalaman manusia. Hidup secara konseptua  diabstraksikan sebagai suatu hubungan kuasalitas dengan kematian. Kemtian adalah mediator untuk proses transendensi manusia itu sendiri. Kematian itu sendiri dapat dipahami sebagai keterpisahan anatara badan kasar dengan adan inti(atma). Badan adalah kualitas kebendaan(materi) yang pada saat kematian akan musnah. Dimana badan itu sendiri akan dikremasi ( diaben ) serta abunya dibuang ke laut. Karena kepercayaan kita terhadap badan kasar itu terdiri dari Panca Maha Butha. Lima unsur materi pembentuk badan.yang terdiri dari pertiwi, apah , bayu , teja dan akasa(ether ). Kelima unsur itu pada saat setelah kematian akan dikembalikan kepada sang pemilik materi. Seterusnya, badan halus berupa roh dan atma pergi kemana?. Semuanya dikembalikan pada swakarma masing-masing. Hukum Kharmalah yang dipercaya mengantarkan sang roh kemana akan melanjutkan perjalanannya. Apakah akan menerima siksa sebagai roh gentayangan atau akan menjadi pengayah di kahyangan dewata. Kerena itu, pemahaman akan tugas hidup manusia seharusnya lebih ditingkatkan, yaitu bahwa manusia bukanlah sekedar makhluk jasmani yang tidak memiliki amanat hidup yang semestinya ia kerjakan, justru demi martabat dirinya sendiri.
Sekelumit tentang Evolusi roh
Pertanyaan yang sering muncul dalam setiap kita memerhatikan orang meamndikan mayat.  Kemana roh dan atma akan pergi setelah kematian?. Sekelumit akan diurai lewat evolusi roh. Kesadaran akan atma merupakan berkah tertinggi hasil evolusi sebagai manusia melalui banyak kelahiran. Dunia ini adalah sebuah sekolah, bila pelajaran sebagai menusia telah selesai, namun evolusi roh akan berjalan terus. Setelah bebas dari kelahiran sebagai manusia, sang roh dengan gemilangnya akan berevolusi di alam-alam yang lebih luhur dalam berbagi wujud makhluk agung. Peningkatan evolusi roh melalui berbagi tah apan alam, sampai melewati tiga puluh tiga alam kesadaran roh. Suatau kurun waktu tertentu diyakini bahwa kesadaran roh akan mencapai pada batas tertinggi, lebur dalam kesadaran maha tinggi(parabrahman). Sampai disinilah perjalanan akhir dari sang roh.  Pencapaian puncak kesadaran itu sering dilukiskan sebagai lautan kedamaian tanpa batas(greats of  peace), penuh kasih(full of love). Mengenai perjalanan evolusi roh itu Guru Arjan Sahib pernah berkata : “ Berulang kali aku lahir sebagai kutu dan serangga, berulang kali aku lahir sebagai gajah, ikan , atau rusa. Berulang kali aku lahir sebagai rumput dan pohon. Sekarang kesempatan terbuka untuk bertemu dengan Tuhan. Tubuh ini telah ku peroleh setelah berabad-abad lamanya”. Kemudian seorang ahli taswuf besar Jalaludin Rumi telah meningalkan sebait puisi yang begitu indah: “ Aku  telah tumbuh sebagai rumput beberapa kali, tujuh ratus tujuh puluh tubuh telah kusaksikan, akau mati sebagai mineral dan tumbuh sebagai tumbuhan, mati dari tumbuhan dan muncul sebagai hewan, mati sebagi hewan dan menjadi manusia, apakah aku harus takut musnah karena kematian?. Dalam peralihan yang akan datang akupun akan mati sebagai manusia dan mendapat sayap malaikat, dan menjadi sesuatu yang tak dapat dicapai oleh khayalku”. Kalau Jalaludin Rumi telah melihat tujuh ratus tujuh puluh kelahiran yang telah dilewati sebagai manusia, maka yang telah tercerahkan Sang Budha Gautama dalam meditasinya yang mendalam dibawah pohon bodhi, melihat dirinya selama lima ratus lima puluh kali kelahiran. Bhagawan Sri Satya Narayana menguraikan bahwa ada tiga tahap utama evolusi di atas manusia sebagai tahap perkembangan lebih lanjut, sebagai makhluk supramanusia, setelah itu meningkat menjadi makhluk kosmik, lalu mencapai tingkatan yang Absolut. Kekuatan daya dorong evolusi itu secara perlahan namun pasti, membuat segala makhluk akan semakin meningkat perkebangannya. Dengan demikian pada suatu saat pastilah segala makhluk akan mecapai kesadaran yang tertinggi(moksa). Itulah kekuatan pendorong dari Sang Muasal.(sangkan paraning dumadi). Proses peningkatan kesadaran dari makhluk bersel satu sampai pada makhluk bermilyard sel(manusia) merupakan rahasia Sang Pencipta. Sementara sang atma akan berkebang mengalir sesuai dengan kemampuannya meningkatkan kesadarannya. Apakah kita pernah bertanya dan mencoba untuk meraih kesadaran yang lebih tinggi? Biarlah pertanyaan itu mengalir seirama dengan perkembangan jiwa kita dalam melepaskan diri dari keterikatan ego pada materi yang terdekat yaitu badan. Tatkala kesadaran kita telah mampu lepas dari keterlakatan akan badan kasar dan badan halus, maka yang tinggal hanyalah cahya kesadaran abadi(absolut) yakni sang Atma. Dasar yang paling kuat dari keyakinan akan hal itu adalah kesetiaan dan tetap hanya melekat pada Sang Pencipta, sementara bentuk-bentuk keterikatan yang lain dapat di-Yadnya-kan. Hampir disetiap kitab- kitab spiritual yang membincangkan tentang kelepasan   menjelang badan akan mati memesankan untuk mengingat dan meyebut nama Tuhan. Dengan mengatakan” Bapak dan  Ibu ilahi saat ini anakmu pulang”. Bukakan pintu cahya kedamaian dan cinta kasihMu yang Agug , agar aku dapat meleburkan jiwa  ini kedalam alam keabadianMu (Amor  ing Acintya ).

                                                                                                      I Nyoman Musna

12.12.12



sebuah renungan jelang akhir 2012

12 .12 . 2012 atau 21.12 . 2012
KERAMAT ATAU KIAMAT

          Masih terngiang diingatan kita begitu popular ramalan suku Maya – Inca tentang prediksi tanggal 12 bulan 12 tahun 2012. Sampai-sampai seorang produser amerika menjadikannya sebuah film layar lebar dengan judul Kiamat 2012 . Banyak tokoh agama, tokoh spiritual, tokoh sains tercengang dan  mencoba mengkonter film tersebut. Bahkan ada tokoh agama berkomentar bahwa ramalan kiamat tahun 2012 itu mendahului kehendak Tuhan, artinya melawan kehendak takdir katanya. Bahkan masyarakat tidak diperkenankan nonton film itu. Akan tetapi penulis pernah pula membaca ramalan ditahun delapan puluhan yang disampaikan oleh seorang Sad Guru. Salah satu ramalan mengatakan bahwa sekitar tahun 2000an akan mulai ada bencana alam yang ekstrem sehingga terdapat pulau-pulau kecil terutama pulau endapan karang laut (Atol) akan mengalami tenggelam akibat es kutub meleleh.  Nah disini sudah jelas akibat dari pemanasan global oleh efek gas rumah kaca. Extreme Ice Survey memperlihatkan gambar Birthday Canyon di Greenland, Samudra Atlantik, begitu es di kutub  meleleh membentuk aliran air seperti sungai ( bali post,4/12). Disamping itu, tahun 2012 merupakan salah satu tahun terpanas yang disampaikan pada konfrensi Doha. Apakah ini pertanda awal akan tenggelamnya bumi secara perlahan akibat es kutub meleleh ? Organisasi  meteorologi Dunia mengatakan temperatur global terus meningkat stelah sempat didinginkan diawal tahun oleh La Nina. Dari semua kekacuan cuaca 2012, hal yang paling menghawatirkan para ilmuwan adalah hilangnya lapisan Es di Kutub Utara pada bulan september. Pelelehan es lebih cepat dari prediksi komputer yang  menurut ilmuwan.
            Nah, kembali kemasalah 12.12.12. atau 21.12. 2012. Apakah angka tersebut merupakan angka keramat? Dimana letak keramatnya? Mungkin model angka yang datangnya dari tanggal bulan dan tahun seperti itu hanya ketemu tiap seratus atau seribu tahun sekali.  Apabila kita utak-atik angka tersebut ala matematika sederhana dengan menggunakan  operasi hitung seperti penjumlahan dan perkalian maka dapat kiranya  kita urai seperti : 12 + 12 + 12 = 36, jika angka 36 itu dijumlah ( 3 + 6 ) = 9. kemudian angka 12 . 12 . 12 itu masing-masing dijumlahkan akan ternjadi  12 itu ( 1+ 2 )= 3 , selanjutnya akan terbentuk angka 3 + 3 + 3 = 9. jika kita lakukan perkalian 12x12x12 = 1728. angka 1728 bila dijumlah 1+7+2+8 = 18 sama juga 1+8= 9.  Sedangkan 12.12..2012 masing-masing dijumlah akan membentuk angka 1 + 2 = 3 ; 1 +2 = 3 ; 2 + 0 + 1 + 2 = 5. jika ketiganya dikalikan  maka  3 x 3 x 5 = 45.
kalau dijumlah 4 + 5 = 9. Sementara angka 9 merupakan angka terbesar dari bilangan desimal ( 0,1,2,3,4,5,6,7,8,9 ). Angka 9 oleh banyak kalangan spiritual, Agama dan, kalangan mistik  mengatakan angka Unik atau angka Khusus mungkin sering disebut angka Keramat.  Di Bali angka 9 itu sering dikenal denga kekuatan yang menjaga alam bali yakni Dewa Nawa Sanga. Kenapa angka 9 dianggap unik, karena anggka 9 dikalikan dengan salah satu angka kemudian dijumlah pasti kembali 9. misalkan 9x4 = 36, dan 3+6 = 9; dan 7x9 = 63, kemudian 6+3 = 9, yah emang unit. Apabila kita gunakan operasi pembagian. Seperti angka  1 : 9 = 0, 111… untuk angka  2 : 9 = 0,222…;  atau angka  7 : 9 = 0, 777… demikian seterusnya.
 Apakah dengan keunikan atas penguraian angka 12.12.12 atau 21.12.2012 menjadi 9 itu dapat dikatakan sesuatu yang kramat dan  atau angka kode menunjukan kiamat yang berakibat fatal pada kehidupan semesta ?. Jawabnya kita serahkan pada kebesaran Alam itu sendiri. Apakah mungkin ramalan orang suku Maya menggunakan cara seperti ini, ataukah memang mereka mendapat bisikan dari alam Brahman?
            Sekelumit Tentang Pralaya ( kiamat )
 Menurut keyakinan Hindu maka tidak dikenal istilah kiamat, akan tetapi yang ada adalah istilah Pralaya. Boleh jadi Pralaya itu berarti peleburan kembali ketidak berbentuk (awal) dalam bahasa rohani”duk tan hana paran-paran”, hana Nur . Pralaya itu terdiri dari 4 yaitu : (1). Maha Pralaya atau Kiamat total; (2). Naimittika Pralaya, terjadi dalam satu periode manu, sedangkan dalam akhir manwantara akan terjadi 14 kali Naimittika; (3). Atyantika Pralaya yaitu pralaya dengan lemampuan spiritual dengan jnana yang kuat; dan  (4). Nitya Pralaya yaitu proses kematian secara rutin tiap saat, seperti sel yang mati tiap saat pada tubuh manusia.  Apabila kita bentuk pralaya yang ke- 4, maka kehancuran akan terjadi setiap saat, seperti kematian manusia setiap detik ada di dunia. Ketahuilah bahwa keterciptaan semesta berawal dari maha energi spirit, kemudian akan terlebur kembali oleh maha energi spirt pula. Apabila energi spirit kehidupan ini menghendaki alam terhancurkan, maka secara perlahan alam akan mulai mengalami kehancuran. Akan tetapi jika Maha Energi yang menghendaki, maka akan terjadi Maha Pralaya dengan waktu sangat singkat semesta akan lenyap. Seperti Brahman menciptakan semesta dengan Maha Energinya sehingga terjadi ledakan besar  yang oleh  para ilmuwan menyebutnya  dengan kata “Big Bang”( ledakan Maha dahsyat ).
            Dala Kena Upanisad-Upanisad  utama dijelaskan tentang Brahman menguji para Deva. Sang Energi Agung bertanya kepada deva Agni tentang kemampuannya(sakti)-nya. Deva Agni mengatakan bahwa dirinya mampu membakar segala sesuatu. Brahman berkata “ Oh  Deva cobalah bakar sebatang jerami itu”. Deva Agni dengan sekuat tenaga saktinya mencoba membakar jerami itu, akan tetapi tidak sanggup membakarnya. Setelah itu deva Agni melaporkan kepada deva Vayu(deva angin). Brahman juga menyuruh Deva Vayu untuk menghempaskan sebatang jerami itu. Dengan kekuatan energi angin yang dimiliki oleh Deva Vayu mencoba menghempaskan sebatang jerami tersebut, namun sia-sia. Setiap deva diuji kesaktiannya, akan tetapi tidak mampu melakukan dengan sempurna. Kisah ini mengisyaratkan bahwa para dewa tidak akan mampu menghancurkan secara total alam semesta, akan tetapi hanya mampu melakukan penghancuran secara parsial denga waktu yang panjang. Hanya Brahman(Tuhan) lah yang mampu mengembalikan kemayaan Alam semesta ini pada ke keabadian yang maha uttama dalam waktu sekehendak Brahman(Tuhan) sendiri. Sadari pula bahwa ketercipataan dan pralaya berjalan setiap detik. Namun  kapan akan terjadi pengembalian alam Semesta ini pada awal penciptaan atau kembali ke titik nol, tiada satupun yang tahu. Ada beberapa ilmuwan menyatakan bahwa umue semesta ini sampai 10 milyard tahun, sementara sedah berjalan sampai 5 milyard tahun. Jika itu benar, maka usia pralaya semesta kita masih tiggal 5 milyard tahun lagi. Nah itu pendapat para ilmuwan, but who knows? Believe it or not,  The answerd  is  leave in our Soul.!! Ketika kita belum mampu menemukan jawabnya, maka hal yang  terbaik  kita lakukan yaitu berbuat sesuatu yang tidak ikut merusak alan serta berdoa untuk keselamatan semesta
            Seterusnya tugas kita hanya tetap menjaga spirit kecil kita ini untuk tetap menjaga keseimbangan, agar tidak diselimuti kekuatan Ego. Ingatlah Alam  tidak akan mampu memenuhi segala keinginan, tetapi alam hanya mampu memenuhi kebutuhan manusia. Sehingga pralaya semesta dapat berjalan sesuai dengan waktu Brahman. Bukan karena kehendak manusia untuk menghancurkan.
SELAMAT MENYAMBUT MENTARI 2013
SEMOGA  CAHYA KEDAMAIAN MENGIRINGI”
“OM LOKA SAMASTA SUKINO BHAVANTU”
“SABBE SATTA BAVHANTU SUKKI TATTA”







I NYOMAN  MUSNA
4.12.12
 

 







Rabu, 25 April 2012

Menjadi Pemenang

HOW TO WINNER?
    

8 PRINCIPLES TO CHANGE YOUR LIFE AND BECOME A WINNER

 Change the way you think :

1. Beleave in yourself

2. Dream Big

3. Stay positive and be optimist

4. Your Attitude

5. Dont give up and live with spirit

6. Create positive habit

7. Do what you Love

8. Start from today

( Think and Act Like a winner )


"Hope all of you be success anything you done with Love"

Senin, 23 April 2012

KIAMAT / PRALAYA

PRALAYA

   Kiamat yang dalam agama Hindhu disebut Pralaya . Dalam Agama Hindhu dikenal istilah Utpeti, Stiti dan Pralina (Penciptaan, Permeliharaan dan Peleburan). Konsep ini disebut dengan Tri Murti, tiga kekuatan Idha Sanghyang Widhi Wasa dalam Mencipta ( Brahma ), Memelihara ( Visnu ) serta Pelebur ( Ciwa ).

                              Pralaya menurut Hindhu terdiri dari:

  1. Maha Pralaya, Alam semesta mengalami peleburan secara total
  2.  Naimittika Pralaya, terjadi suatu periode Manu, dalam  manwatara akan terjadi14 kali               Naimittika                                      
  3. Atyantika Pralaya, Pralaya dengan kemampuan spiritual dengan Jnyana kuat
  4. Nitya, proses kematian secara rutin tiap saat, seperti sel yang mati tiap saa                                   pada  tubuh.
   
  Alam semesta yang tercipta yang pada saat penciptaan (srsti) bersifat kekal yang tertuang dalam kitab Upanisad " Purnamadah purnamidam, purnat purnam udayate, purnasya purnamadaya, purnam eva awacisyate" ( Tuhan itu maha sempurna, alam semesta inipun sempurna, dari yang sempurna lahirlah yang sempurna ). Alam tercipta, terpelihara yang kemudian di recycle(di lebur) kembali oleh kekuatan saktinya Ciwa Maha Rudra. Demikian berulang-ulang secara berkala dalam batas Yuga dan waktu Brahma. Kapankah akan terjadinya Maha Pralaya? Jawabnya ada pada sampai kapan Tuhan akan bosan dengan kesenangan terhadap ciptaan(Lila Krida)-Nya, pada saat Maha Pralaya   semesta akan terujud menjadi satu titik Energi yang akan pulang kembali dalam Maha Energi. Kemuadian pada saat seperti itu kita akan memahami bahwasanya hanya Tuhanlah  yang Ada. Tiada lagi Nama-Rupa, Agama, Status apapun.          (There are nor nature just only God emmortality). Akankah di Tahun 2012 semesta mengalami Maha Pralaya?? pada pertanyaan ini  hanya Tuhanlah yang tahu, manusia hanya mampu memjalani hidup sesuai swadarma dengan berserah diri padaNYA.

     

Selasa, 06 Maret 2012

puisi

MENYELAM DALAM SEPI

tatkala keheningan menyapa nurani
bunga cinta kasih mekar diantara pelangi
ketenangan,
kedamaian,
kebahagiaan
menghiasi jagat diri
alunan melodi klasik
melintasi kesadaran
mekar puspa indah taman surgawi
 dihiasi tarian dewi keindahan
diantara sejuta warna seroja
sementara hati semakin dalam
tenggelam ke dasar sepi
sunyi, .....sunya...kosong...