Selasa, 14 Januari 2014

Pendidikan Karakter lewat Pramuka



Pendidikan Karakter melalui Praja Muda Karana

Tawuran antar pelajar, perkelahian antar remaja geng motor
Maraknya pencurian oleh remaja, keterlibatan remaja dengan Narkoba
Meningkatnya remaja yang terinveksi penyakit HIV/AIDS.
Tren remaja bunuh diri hanya karena suatu masalah sepele.
Adakah ini pertanda bahwa anak kehilangan model berkarakter?


            Sejatinya model yang paling pertama dan utama bagi anak adalah orang tuanya sendiri. Setelah itu guru disekolah. Karena guru merupakan orang tua kedua setelah orang tua kandung. Apabila kedua figur itu tidak dipakai model leh anak, maka pemodelan akan dicari dari tokoh-tokoh lainnya. Sepereti tokoh pahlawan bagi mereka yang memiliki jiwa patriotik. Tokoh seniman bagi anak yang mengidolakan seni dalam jiwanya. Akan tetapi tidak jarang anak-anak sekarang mencari pemodelan lewat tayangan  TV, Internet, majalah atau cerita-cerita yang memuat tentang tokoh tertentu yang terkadang kurang tepat.
            Ketika anak mencari model diluar keluarganya, itu berati bahwa orang tua tidak cukup waktu untuk menemani anak di rumah. Akibat dari tuntutan hidup yang semakin tinggi. Orang tua pergi kerja pagi hari kemudian pulang sore hari. Karena kondisi payah, maka waktu untuk bercengkrama dengan anak pasti kurang. Sementara si anak sendiri sibuk dengan berbagai kegiatannya sendiri. Jarang terjadi komunikasi keluarga disaat makan bareng di ruang makan.  Karena anak sering disibukan dengan tugas sekolahnya di warung internet. Saking jarangnya terjadi komunikasi intim antar keluarga, maka anak cendrung berkomunikasi  akrab dengan teman sebaya atau teman yang lebih tua. Yang terpenting bagi anak adalah adanya rasa kebersamaan dalam keakraban. Disamping itu, anak sering disuguhkan cerita dalam tayangan sinetron yang mampu menggugah hati si anak. Dari tokoh pesinetron itulah terkadang yang menjadi idolanya. Meski tokoh yang diidolakannya itu tidak jelas asal muasalnya, namun pada tayangan sinetron itu yang tampilannya kren dengan mobil mewah, pamer kekayaan, bergaya modern, maka anak akan mengatakan “oh yang ini gue banget”. Akankah kita biarkan anak kita hidup bebas tanpa arah dan tujuan yang jelas?. Kebebasan serta kemanjaan yang diberikan orang tua tidak jarang disalah artikan oleh anak. Kebebasan itu sering dipergunakan diluar keluarga. Sehingga terbentuklah kelompok-kelompok kecil yang banyak salah arah dan salah tujuan. Hal itu disebabkan kematangan mereka yang boleh dibilang masih labil.
            Bilamana pendidikan di keluarga tidak optimal dapat dilaksanakan oleh orang tua akibat dari persaingan hidup yang keras, maka sekolahlah menjadi tumpuan bagi orang tua untuk membina anaknya. Tidak jarang orang tua menyerahkan begitu saja anaknya kepada instansi sekolah. Padahal waktu anak di sekolah adalah sepertiga dari waktu keseluruhan. Sedangkan dua pertiga waktu anak ada di rumah. Apabila hubungan komunikasi anak dikeluarga tidak baik, akan berdampak pada susahnya pembinaan di sekolah. Disamping orang tua mengarahkan anaknya pada pendidikan formal, ada baiknya pula orang tua mengarahkan anaknya untuk megikuti ekstra kulikuler Pramuka. Kenapa anak perlu diberikan pendidikan  Pramuka?.
            Pendidikan kepramukaan menggunakan sistem Among. Sistem ini hasil pemikiran Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan Nasional, sebagai pendiri perguruan Taman Siswa. Sikap laku yang diterapkan oleh pembina yaitu Ing arso asong tulodo( di depan memberi teladan), Ing madya mangun karso( di tengah –tengah membangun kemauan), Tut wuri handayani( di belakang memberi dorongan). Sistem Among berarti : mengasuh, memelihara, menjaga, merawat. Yang melaksanakan sisten Among dikenal “Pamong” atau pembina. Proses pendidikan dengan menggunakan sistem among mengedepankan cara kekeluargaan. Sebutan peserta didik dalam usia Siaga(7 – 10 tahun) adalah anak, pamong atau pembina dipanggil ayah dan ibu. Pendidikan pada usia ini peserta didik masih memerlukan pengasuhan seperti anak-anak dalam sebuah keluarga.  Dalam pertemuan atau pemberian pengarahan dilapangan menggunakan barisan membentuk lingkaran. Dengan maksud agar pamong/pembinanya menjadi model. Sehingga bila peserta didik mengalami masalah pasti akan mengadu kepada pembina sebagai ayah dan ibunya. Kode kehormatan yang dipergunakan untuk Siaga yaitu Dwi Satya dan Dwi Dharma. Tingkat kecakapan untuk anak siaga yaitu Siaga Mula, Tata bantu dan Siaga tata. Bilamana usia peserta didik  telah menginjak 11-15 tahun maka peserta didik akan naik golongan menjadi Penggalang. Dalam bentuk pertemuan dalam pelatihan penggalang sudah mulai membuka diri, sehingga setiap berkumpul penggalang membentuk barisan seperti huruf “U”(angkare), Maksudnya peserta didik dalam usia penggalang sudah mulai membuka diri terhadap lingkungan, belajar memahami masyarakat meski masih dibatasi. Pembina dipanggil Kakak, peserta didik dipanggil Adik. Hal ini untuk lebih terjadinya kedekatan anatara pembuna dan peserta didik Pada usia penggalang, peserta didik ditanamkan pendidikan yang bersifat akhlak mulia, ketangkasan, kecakapan hidup patriotisme cinta bangsa tanah air, mengembangkan wawasan, daya imajinasi dan daya cipta, rasa percaya diri, bertanggung jawab, sosial gotong royong, peduli lingkungan  serta toleransi.kesemuanya tertuang dalan SKU(syarat kecakapan umum) dan SKK ( syarat kecakapan khusus ). Dalam kepenggalangan, dilihat dari kecakapannya ada tiga tingkatan yaitu: Penggalang Ramu, Rakit dan Terap. Kode kehormatan untuk tingkat penggalang, penegak dan pendega adalah Tri Satya dan Dasa Dharma. Apabila usia peserta didik menginjak pada 16-20 tahun seusia SMA dan mahasiswa dinamakan Penegak atau Pendega. Golongan penegak terbagi atas dua yaitu penegak Bantara dan penegak Laksana. Sementara bagi mereka  pada usia 21-25 tahun dinamakan pemuda dewasa. Pendidikan kepramukaan sangat memerhatikan tingkat usia dan perkembangan peserta didiknya. Pada golongan Penegak dan Pendega, pertemuan dilapangan berbaris menggunakan satu saf(satu barisan lurus ke kanan) mengandung makna, peserta didik sudah boleh membuka diri secara luas kesemua arah. Tujuannya agar peserta didik dalam usia penegak dan pendega mampu membuka diri, memiliki pengetahuan dan wawasan kedepan  yang luas.
            Sistem beregu atau berkelompok wajib diterapkan dalam pendidikan Pramuka, dengan satuan terpisah antara peserta didik putra dan putri.  Pada pendidikan kepramukaan kemampuan peserta didik benar-benar diperhatikan antara hard skill   yaitu  kemapuan logika pikir (IQ), serta soft skill yaitu kemampuan Spiritual(SQ), kemampuan Emosi (EQ) serta kemampuan menghadapi tantangan hidup (AQ). Program kegiatan kepramukaan selalu memerhatikan tingkat perkembangan jasmani dan rohani peserta didiknya. Sehingga pertumbuhan dan perkembangan peserta didik  terjaga keseimbangannya  bukan secara instan. Adapun sasaran pembinaan bagi pserta didik yaitu: kuat keyakinan beragamanya, tinggi mental dan moralnya serta berjiwa Panca Sila, sehat dan segar jasmani, cerdas, tangkas dan terampil, berpengetahuan luas dan dalam, berjiwa pemimpin dan patriot, berkesadaran nasional dan peka terhadap perubahan lingkungan, berpengalaman banyak. Seperti  yang tertera dalam Dasa Dharma Pramuka yaitu : (1).Bertaqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa (2).Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia; (3). Patriot yang sopan dan ksatria;(4) Patuh dan suka bermusyawarah; (5) Rela menolong dan tabah; (6)  Rajin trampil dan gembira; (7) Hemat cermat dan bersahaja; (8) Disiplin , berani dan setia; (9) Bertanggung jawab dan dapat dipercaya;(10) Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Seperti sinetron  Lima  Elang yaitu  anggota regu penggalang  ditayangkan oleh salah satu stasiun TV terkenal, tayangan yang patut dan tepat ditonton oleh kalangan pelajar.
Bukankah semua itu merupakan bentuk pendidikan yang berkarakter yang diharapkan dalam penyempurnaan kurikulum pendidikan yang akan datang ?. Bila hal itu benar adanya, maka tidak salah apabila Mendiknas beserta jajarannya  mengarahkan untuk pendidikan dasar dan menengah mewajibkan peserta didik dan pendidik mendapatkan pendidikan Kepramukaan. Semoga bangsa ini tidak kehilangan nilai-nilai karakter, sehingga tidak terjadi negara yang kehilangan karakter “Black Nation”.

                                                                                                                  I Nyoman Musna

Bencana datang dari Keserakahan



Bencana datang dari Keserakahan


Makan dan minum berlebihan menyebabkan sakit pada badan
Air hujan turun berlebihan berakibat banjir bandang
Angin datang dengan kecepatan berlebihan menjadi badai topan
Panas datang melebihi keadaan biasanya menyebabkan kekeringan
Api sebagai panas bumi berlebihan akan berakibat gunung meletus
Hiduplah harmoni dengan Panca Maha Butha

            Ketidak-seimbangan penyebab dari segala bentuk bencana. Baik pada alam kecil(mikrokosmos) ataupun pada alam besar (makrokosmos). Alam beserta isinya tecipta dari keseimbangan dengan hukumnya bernama Rta. Manusia sebagai makhluk berpikir dan berakhlak dititipkan untuk ikut menjaga keseimbangan semesta. Namun,  manusia sendiri memiliki ego kepemilikan yang begitu besar, maka tidak jarang ke-ego-an itu manusia  menjadi lupa diri untuk menguasai alam.
Berawal dari rasa kepemilikan manusia yang kuat itulah ikut memberi andil pada ketidak seimbangan alam, kemudian mempercepat timbulnya berbagai bencana.
            Untuk menjaga keseimbangan diri manusia terhadap keseimbangan alam dalam menjalani kehidupan, oleh para tetua kita mengkonsepkan sebuah tatanan hidup harmoni yang dikenal dengan pilsafat “Tri Hita Karana” yaitu tiga penyebab untuk meraih hidup harmonis dan bahagia.
Pertama, hubungan harmoni dengan Sang Pencipta alam ini dengan hidup penuh tawaqal dan bersyukur; kedua, hubungan harmoni dengan sesama hidup dengan pemahaman bahwa semua yang hidup adalah bersaudara( vasudewa khutum bhakam) dan yang ketiga, hidup harmoni dengan alam itu sendiri, karena alam semesta itu juga diri kita sendiri. Apabila konsep keseimbangan itu dapat teraktualisasikan dalam kehidupan secara sadar dan bijak, niscaya keseimbangan hidup dengan alam akan dapat  terjaga. Selanjutnya bencana alam akan dapat diperjarang meski untuk menjadi nihil bencana adalah nisbi, karena alam itu sendiri tetap mengalami perubahan sesuai dengan usia alam yang semakin renta.
            Pada musim penghujan tahun ini hampir diseantero tanah air mengalami banjir. Hampir tiap hari dalam siaran TV menampilkan bencana banjir dan tanah lonsor. Kota Jakarta misalnya, dengan gubernurnya yang baru dilantik sudah bertarung bak pendekar melawan kondisi bajir disetiap sudut jakarta. Kalau saja kita boleh menyebutkan pak gubernur sebagi “pendekar banjir”. Berlebihnya air yang turun dari langit berupa curah hujan tinggi berakibat banjir bandang, itu benar adanya. Disamping curah hujan yang turun tinggi, manusia sendiri mempunyai andil sebagai penyebab banjir, seperti kurang disiplinnya masyarakat membuang sampah. Dari hulu bukit dan gunung digunduli, sementara di hilir tanah ditutupi beton-beton dengan angkuhnya gedung betingkat dimana-mana. Padahal telah telah diingatkan dalam ritual  Wana Kertih, Segara Kertih dan Danu Kertih. Adapun  ritual itu dapat dimaknai sebagai peringatan pada kehidupan untuk selalu menjaga hutan, laut dan danau agar tetap dijaga keberadaannya. Bukan untuk dieksploitasi untuk kepentingan individu atau kelompok tertentu.  Kurangnya tanah kosong yang tersedia sebagai resapan air disaat masim hujan. Hampir disetiap jengkal tanah diperkotaan ditanami beton dan diaspal, sehingga air tidak bisa terserap ke tanah. Ketika tidak adanya tanah lapang sebagai resapan, maka semua alir mengalir ke laut, dalam kurun waktu singkat manusia kekurangan air bawah tanah. Pada kondisi seperti ini pak gubernur jakarta mengintruksikan setiap rumah tangga dan bengunan gedung perkantoran  untuk membuat lubang resapan air hujan yang dikenal Biopori.  Untuk konsep semacam biopori ini, nenek moyang orang bali sejak jaman dulu  telah menyediakan ruang berupa lahan kosong dipekarangan rumah yang disebut karang luang atau karang embang. Tempat ini sering ditanami pohon buah dan tempat memelihara ternak sehingga dalam konteks harmoni dan pilosofinya ada perayaan Tumpek Wubuh (upacara untuk harmoni dengan tumbuhan) dan Tumpek Kandang (upacara untuk harmonis dengan binatang) . Pekarangan embang inilah sebenarnya dipakai meresapkan air kedalam tanah, sehingga banjir dapat dihindari dirumah tangga, namun sekarang karang embang tinggal kenangan dalam kenangan. Kerena setiap jengkal tanah yang ada dalam pekarangan rumah dipaping dan dibeton sehingga air hujan singgah ke kamar tidur. Banjar dapat berdampak pada rusaknya pemukiman penduduk, sulitnya mendapatka air bersih, rusaknya sarana prasarana penduduk, rusaknya areal pertanian, timbulnya berbagai penyakit, terhambatnya transportasi darat yang berakibat pada terhambatnya laju perekonomian masyarakat.
Untuk menghindari air hujan begitu lama menggenangi pekarangan rumah, kiranya dapat dibuat Lubang Resapan Biopori.
            Apakah Lubang Resapan Biopori(LRB) itu, bagaimana cara membuatnya?
Lubang resapan biopri adalah sebuah lubang vertikal di tanah, dengan diameter lubang  10 cm dengan kedalaman sekitar satu meter. Biopori itu sendiri merupakan pori-pori berbentuk lubang(terowongan kecil) yang diberdayakan oleh aktivitas fauna tanah atau aktivitas akar tanaman, ketika mencari makanan(kompos) yang telah disediakan dalam lubang( Khamir R Brata, 2007). Lubang resapan biopori adalah teknologi tepat guna dan ramah lingkungan, karena relatif mudah dilakukan serta dapat memelihara berlangsungnya proses-proses fisik, kimia, dan biologi. Penerapan Lubang Resapan Biopori dapat mengakibatkan perbaikan lingkungan perkotaan. Fungsi yang dimiliki oleh LRB adalah untuk : (1) memanfaatkan sampah organik menjadi kompos, (2) meningkatkan peran aktivitas biodeversitas tanah dan akar tanaman; (3) mengurangi emisi gas-gas rumah kaca CO2 dan metan; (4) meningkatkan laju peresapan air dan cadangan air tanah, dan (5) mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh genangan air seperti penyakit demam berdarah dan malaria.  Dengan pertumbuhan penduduk yang semakin padat, lahan semakin menyempit yang dipenuhi dengan areal pemukiman sangat padat, maka Lubang Resapan Biopori merupakan hal penting dilakukan disetiap rumah tangga agar dapat terhindar dari kondisi terendam banjir.
            Apabila kita renung sejenak, bertanya pada diri kita makna dan pesan apakah yang dapat kita petik di balik  sebuah bencana?. Sepertinya alam berpesan bahwa manusia diingatkan untuk tidak serakah untuk mengeksploitasi alam. Semestinya alam dihormati sebagai rumah tinggal bersama hidup berdampingan penuh harmonis dengan konsep cintai diri cintai alam, sayangi diri sayangi alam. Karena alam sendiri merupakan Ibu dan Bapak sebagai pemberi hidup dalam kehidupan ini. Akankah kita biarkan alam menangis sedih dan akhirnya murka hanya karena keserakahan kita?. Tentu jawabnya Tidak!
            Meskipun bencana alam terutama banjir tidak dapat kita hindari seratus persen, namun kita tidak ikut campur mempercepat proses perusakan alam.  Dengan bercermin kepada kearifan tetua kita yang selalu hidup harmoni dengan alam melalui konsep Tri Hita Karana, mari kita bersama pahami bahwa Alam adalah sahabat sejati kita, tanpa alam apalah jadinya kita, karena alam sendiri memberi hidup buat manusia. Kelahiran manusia ke dunia bukanlah untuk menguasai alam, dengan mengeksploitasi alam secara berlebihan. Ingatlah bahwa alam tidak akan mampu memenuhi nafsu keserakahan manusia, akan tetapi alam hanya mampu memenuhi kebutuhan hidup manusia.  Mari kita galakkan penghijauan dengan motto “Semilyard Pohon”, baik dilakukan  secara perorangan maupun secara kolektif. Swasta maupun pemerintah mesti bergandeng tangan menjaga alam kita agar tetap hijau, udara jadi segar bencana banjir dapat berkurang. Sehingga pemahaman atas Wana Kertih dan Danu Kertih bukan berhenti pada tatanan ritual, akan tetapi lebih jauh dapat dipahami sebagai aktualisasi diri untuk menjaga kelestarian hutan dan danau sebagai sumber kehidupan. Selanjutnya mari kita maknai sebuah bencana sebagai jalan kesadaran diri untuk selalu hidup berdampingan secara harmonis dengan alam. Jangan hendaknya serakahi alam dengan keangkuhan dan ego kita.

                                                                                                I Nyoman Musna

Menjaga taksu Bali



Pembangunan Bali yang berkelanjutan
Berwawasan Tri Hita Karana



            Berbicara masalah pembangunan khususnya pembangunan di bali tidak dapat dilepaskan dari konsep adi luhung yakni Tri Hita Karana. Bali yang sudah kesohor ke manca negara bukan hanya sekedar pembangunan pisik semata. Karena konsep pembangunan  bali memiliki kearipan lokal seperti aturan tata ruang seperti asta kosala kosali dan  asta bumi. Disamping itu juga ada konsep ulu(kepala) dan teben(kaki). Pembangunan bali yang berdasarkan konsep demikian itulah makanya bali memiliki nilai khas yang dikenal pembangunan yang mengandung nilai Taksu atau kharismatik yang tinggi. Apabila bali ingin tetap memiliki nilai taksu, maka pembangunan di bali mestinya tetap mempertahankan nilai-nilai kearipan lokal seperti yang tertera diatas. Bila tidak, maka bali akan menjadi suatu daerah metropolitan yang dipenuhi oleh gedung-gedung menjulang ke langit berkarakter kaku dan beku. Dengan demikian bali yang dikenal pulau sorga akan berubah menjadi pulau neraka. Akankah pembangunan di bali akan dibiarkan liar tanpa memperhatikan nilai budaya dan kearifan lokal?.
            Apabila kita lihat pembangunan di bali saat ini yang dibiarkan begitu bebas tanpa sedikitpun mengandung unsur nilai budaya bali. Para investor dengan modal yang besar begitu bebasnya membangun di bali seakan-akan diluar kontrol yang berwenang. Konsep tata ruang dan dampak lingkungan seakan-akan  sudah tidak menjadi perhatian serius lagi. Akibatnya bali sesak napas tersengal-sengal akibatnya benyaknya gedung bertingkat. Tidak lagi ada pembangunan yang berwawasan budaya. Tiada lagi memasukan kosep Tri Hita Karana dalam perencanaan pembangunan. Sehingga nilai keharmonisan  dalam kehidupan manusianya semakin menipis bila tidak boleh kita bilang habis sama sekali.  Dengan adanya keterbukaan  serta peluang bagi investor untuk menanamkam modalnya di bali, tidak adanya pengawasan yang ketat maka bali perlahan akan mengalami kehancuran.
            Pembangunan bali yang berkelanjutan mestinya tidak boleh lepas dari konsep Tri Hita Karana. Artinya setiap pembangunan memiliki nilai harmoni dengan unsur ketuhan melalui konsep pilosofi dan agama yang ada yaitu agama hindu. Memiliki nilai harmoni dengan alam lingkungan serta harmoni dengan unsur manusianya. Apabila dalam pembangunan di bali menghilangkan nilai-nilai tersebut maka niscaya pembangunan bali akan kehilangan jati diri. Bali tidak lagi menjadi “BALI” yakni Bagus Agung Indah Luhur. Bagus maksudnya pembangunan di bali mengandung nilai budaya dan karakter bali itu sendiri. Agung  memiliki nilai kewibawaan dan keagungan dalam bingkai agama hindu, Indah, memiliki nilai-nilai keindahan  kelembutan keasrian. serta Luhur memiliki nilai keluhuran dalam tatanan kehidupan masyarakatnya. Mari coba kita berpaling disekitar kita adakah Bali yang masih “BALI” dapat kita temui di pulau seribu pura ini?. Jawabnya ada pada diri kita sendiri. Agar pembangunan di bali tetap bernilai ke-“BALI”-annya, maka tidak ada kata lain selain tetap berorientasi pada philosofi Tri Hita Karana.
            Philosofi Tri Hita Karana yang bila disimak dari makna katanya yaitu Tri  berarti tiga, Hita artinya haroni dan Karana mengandung makna penyebab. Jadi Tri Hita Karana itu adalah tiga penyebab yang menjadikan kehidupan itu harmonis. Adapun ketiga hal tersebut yakni(1) Parahyangan maksudnya, manusia mesti percaya dan bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi/Tuhan Yang Maha Esa sebagai pencipta alam serta segala isinya. Melaksanakan ibadah agama sesuai dengan kitab suci , memelihara tempat ibadah dengan baik.bukan sebaliknya malah merusak serta mencuri benda-benda yang disakralkan oleh satu agama. Seperti yang marak terjadi di bali yakni pencurian Pratima, membakar tempat ibadah. (2) Pawongan, yaitu manusia sepatutnya dapat hidup berdampingan secara harmonis dengan semua kehidupan(manusia, binatang dan tumbuhan).  Tidak terjadinya perang antar etnis, pembantaian manusia secara keji tanpa prikemanusiaan. Membunuh serta memperjual belikan binatang langka secara bebas. Penggunaan pestisida secara liar yang berakibat pada kehancuran rantai kehidupan pada binatang. (3) Palemahan, yaitu manusia dapat hidup harmonis dengan alam lingkunannya. Manusia tidak secara membabi buta mengeksploitasi  alam serta isinya hanya  demi memenuhi egonya. Seperti yang kini kita lihat di bali sudah banyak daerah persawahan dan tegalan berubah jadi hotel dan mall. Tebing, hutan  dan sungaipun telah berubah menjadi vila. Sehingga bali semakin sesak napas. Penduduk semakin bertambah pengangguran mengikutinya. Dari ketidak harmonisan itu pula nilai pada sumber daya manusia semakin menurun terbukti kurupsi meraja ada dimana-mana, baik di pemerintahan maupun swasta.  Meskipun telah ada komite pemberantasan korupsi, akan tetapi korupsi tetap meraja rela, wah benar-benar memilukan. Bilamana hal demikian berlanjut terus tanpa adanya kesadaran semua pihak, maka niscaya bali akan menuai kehancuran. Apakah kita akan biarkan bali ini menemui kejatuhan yang mendalam hingga ke jurang kehancuran?. Jawabnya tentu tidak!. Dalam kondisi seperti inilah  peran generasi muda dituntut untuk tetap berjuang mempertahankan “keajegan” dan keluhuran tanah bali.
            Generasi muda mesti bergandengan tangan  untuk ikut mengambil peran dalam mempertahankan pembangunan di bali yang tetap berbasis pada kearipan lokal dengan prinsip “Think Globaly Act Traditional” yang artinya generasi muda mesti memiliki wawasan kesejagatan tetapi tetap mempertahankan nilai –nilai luhur tradisi. Mampu memfilter diri terhadap pengaruh global yang mana pergaulan kesejagatan seperti sekarang ini tidak semuanya mengandung nilai-nilai karakter yang sesuai dengan adat ketimuran. Mengejar ilmu pengetahuan  serta pengalaman seluas mungkin adalah sebuah kepatutan bagi generasi muda, bila tidak mau ketinggalan di jaman. Namun demikian mengejar ilmu pengetahuan mesti dibarengi oleh nilai-nilai budi pekerti, sehingga terjadi keseimbangan antara kemampuan intelek dengan ego. Keterbukaan seluas-luasnya untuk mengejar pengetahuan bukanlah berarti generasi muda dapat menggunakan kesempatannya untuk berlaku se-bebas-bebasnya tanpa adanya  batasan yang wajar. Keterbukaan Demikian pula halnya dengan pembangunan pisik di bali bukan berati membangun dilakukan  secara serampangan tanpa memperhatikan nilai budaya dan agama hindu sebagai penopangnya.
            Dunia telah mengakui bahwa philosofi Tri Hita Karana mengandung nilai adiluhung. Oleh sebab itu maka sewajarnya generasi muda sebagai penerus budaya leluhur mesti mau dan mampu mempertahankan. Mempertahankan konsep Tri Hita Karana bukan sekedar sebagai  pemanis dibibir serta bahan seminar belaka. Namun generasi muda mesti mampu berbuat nyata dalam mengaktualisasikan konsep tersebut dalam kehidupan. Para leluhur yang membuat konsep itu berdasarkan atas prilaku kesehariannya, bukan mengiklankan dan memamerkan diri bahwa mereka telah berbuat sesuai dengan konsep Tri Hita Karana tersebut. Namun sekarang ini banyak kalangan yang berbicara banyak tentang konsep Tri Hita Karana, tetapi miskin pada praktek kesehariannya.
            Mengakhiri wacana ini, saya menghimbau kepada seluruh generasi muda bali untuk bersama-sama melanjutkan pembangunan di bali dengan tetap berpedoman pada konsep Tri Hita Karana. Mari kita jaga Bali agar tetap menjadi “BALI”(bagus agung luhur indah). selalu eling dan bakti terhadap Ida Sang Hyang Widhi, harmonis terhadap  sesama hidup(manusia, binatang dan tumbuhan) serta menjaga keamanan , kenyamanan serta keasrian alam lingkungan bali itu sendiri. Jangan hendaknya generasi muda bali ikut-ikutan merongrong keajegan bali dari bali.
Apabila kita mampu dan mau mempertahankan nilai-nilai kearipan lokal bali, niscaya bali akan tetap memiliki taksu serta  menjadi primadona dunia. Bila tidak, bali akan kehilangan taksunya kemudian bali yang dikenal "island of Paradise" berubah "island of Hell".
                                                                                            Musna,okt,2013
           


ULANGAN HARIAN MATEMATIKA ( PANGKAT DAN AKAR )







 Kepada Siswa Kelas A,B,C
Silahkan jawab soal harian ini dengan jelas, kemudian di kumpul Senin 20 Januari 2014