Selasa, 14 Januari 2014

Puisi Bali(Siwaratri, Pagerwesi, Tumpek landep,Nyampat)



SIWA RATRI


Siwa niku wantah bagia
Ratri wantah ja peteng
Sasihnya ring sasih kapitu
Nyujur bagia ring petenge sane dedet
Peteng pitu “sapta timira”
Purwaning tilem kapitu
Lubdaka ngelintangin alas tenget
Bet rimbun kadi ramen idupe
Idup sane kapetengan masa
Kapetengan baan demen
Demen ngumbar kama
Loba ngumbar keneh  boya
Idupe sane setata maboya-boya
Sang wiku Tanakung ngelingan
Sampunang lega ring tengahing peteng
Tapa brata yoga samadhi kukuhin
Ruruh iku galang apadang
Sane setata ngalangan ati
Antuk ngebitang sastra pingit
Nguncarang maha mantra
OM, Namo Siwa Ya…
10.1.13



PAGER WESI

Buda kliwon wukune shinta

Apa ento sane patut pagehang
Umah, kubu, pondok, jero
Apa anggen magehang
Wantah ja tembok bolong
Sane patut pagehang empet
Wantah widya ring angga
Widya sane utama suci
Katedunin dening aji saraswati
Mangda tan kaceburin Awidya
Pager wesi magehang jnana
Sibeh antuk wicaksana
Tegul antuk sastra pingit
Kemitin aji sunar dharma
Eling tekening guru sunya
Widyane nyujur luhur dharma kerti
10.1.13




Tumpek Landep
Saniscara kliwon wuku landep
Landep nenten ja wesi
Nanten taler keris, dui, lan taji
Alang-alang nenten masi landep
Landep tajep wantah Jnana
Jnana tajep widyane midep
Idep tajep anggen maidep
Minehang pemargin idup
Idupe masuluh aji pineh landep
Dasarin  tatuwek sane jujur
Nyujur Tatujon mautama
10.1.13

NYAMPAT


Sampatang luu di natah
Sampatang daki neket di awak
Sampatang kenehe ane loba
Sampatang atine ane neket di rasa
Kedasang gumine
Kedas awake
Kedasang langite
Kedas kenehe
Kedasang ambarane
Kedas atine
Kedas ditu kedas dini
Setata makedas-kedas
Kedas nyalang ngalih galang
Kadi galang sasih kedasa
Galang kayun ilang pikun
Ilang pikun eling kantun
10.1.13



Pemulung Bermimpi



Pemulung bermimpi meraih Bintang


Ibu, marilah kita tidur
Esok masih ada waktu untuk mengais lagi
Biarkan sejenak tubuh ini nikmati teduh dari letihnya dan lusuh
Agar keringat berdebu ini kering oleh angin dingin
Sembari kita tengadahkan wajah kita ke langit sepi
Menatap bintang dan rembulan meski berkabut awan bimbang
Coba kita hitung kelip bintang-bintang
Seperti kita menghitung hari-hari kita yang gersang

Ibu, marilah kita berdoa
Siapa tahu Tuhan masih punya hati buat kita
Sehingga esok kita dapat berjalan menikmati hari
Hari yang penuh membawa berkah nikmat
Meski hanya sekedar berkah sampah plastik dan kardus
yang berserakan di tepi jalan
 akan kita lalui dari pagi hingga malam
hingga perut ini dapat nikmati nasi aking berteman ikan garing
akankah perut ini hanya berisi angin dingin malam ini?

Anakku, jangan sesali hidup ini
meskipun kita hanya pemulung pinggiran jalan
yang hidup hanya dari sisa-sisa aisan makanan sampah
yang tidur hanya berlaskan tikar tanah dan atap langit
tapi kita tetap mensyukuri apa yang kita dapati
mari tetap nyanyikan lagu sepi untuk menemani tidur kita
dengan iringan musik jangkrik dan kodok-kodok liar
serta riungan melodi nyamuk-nyamuk nakal di telinga

 Anakku, segeralah bangkit dari tidurmu
Mentari telah menghempas dinginnya dingin
Segera bersihkan jiwa dan ragamu
Rapikan pakaian di badan, pergilah segera ke sekolah
Belajarlah dengan segenap hati
Raih ilmu seluas tujuh samudra
Gantungkan harapanmu setinggi bintang
Untuk menggapai mimpimu besok hari

Anakku, ingatlah pesan ibu
Bila nanti kamu telah jadi raja pemulung
Tetaplah ingat untuk mengabdi pada pertiwi
Bersihkan sampah- sampah berserakan di bumi
Jangan hendaknya malu jadi pengais sampah
Daripada mengemisi uang negara

                                                                  MUSNA,2013









RENUNGAN


RENUNGAN

“MEMAKNAI  KEHIDUPAN”

“Seperti halnya kita hidup melalui ribuan impian dalam hidup kita sekarang, begitu pula hidup kita sekarang hanya merupakan salah satu diantara beribu-ribu penjelmaan seperti itu yang kita masuki dari kehidupan yang lain yang lebih sejati…Kemudian kembali sesudah meninggal. Kehidupan kita hanya merupakan salah satu dari impian-impian tentang kehidupan yang lebih sejati itu,dan memang demikian untuk selamanya, sampai kehidupan yang terakhir sekali, kehidupan yang sangat sejati, yaitu kehidupan Ketuhanan”( Count Leo Tolstoy).

    Menyia-nyiakan kelahiran sebagai manusia adalah sebuah pemahaman yang keliru, sebab lahir sebagai Manusia amat sulit diraih, coba kita renungkan kembali, bahwa awal ciptaan adalah Alam Semesta dengan materi yang kasar, kemudian mungembang menjadi kehidupan tinggkat pertama yaitu sel satu, berlanjut ke  tingkat binatang  seterusnya berevolusi pada tingkatan kesadaran lebih tinggi sampai pada Manusia, yang memakan waktu tidak kurang dari milyaran tahun setelah alam tercipta.

    Dengan menyadari akan begitu beratnya kelahiran sebagai Manusia, hendaknya keinginan- keinginan manusia jangan ditujukan untuk memuaskan indria-indria ( Ego). Hendaknya orang hanya ingin hidup karena kehidupan manusia memungkinkan ia dapat bertanya tentang Kebenaran Mutlak. inilah yang menjadi tujuan dari segala perjuangan dalam perjalanan hidup. Dari pada itu hendaknya manusia menyadari akan pentingnya memahami tujuan hidup, sehingga kelahiran sebagai manusia yang oleh sang Roh agung diberikan waktu untuk belajar memahami diri sejati di alam ini, sampai pada batas sang badan lapuk ditelan sandya kala. Meningkatkan diri guna pencapaian kesadaran dalam penyatuan kepada yang Absolut adalah tujuan akhir pendakian roh yang berevolusi menjadi manusia, dan apabila kesadaran serta pencapaian yang mutlak belum terujud, maka sang jiwa akan selalu bereinkarnasi memakai badan – badan sesuai dengan karma dalam pengalaman kehidupan sekarang. Kapankah perjalanan reinkarnasi suatu jiwa kan berakhir?,  Jawabnya tergantung pada tingkat kesadaran absolut jiwa itu sendiri….

I nyoman musna

Pendidikan Karakter lewat Pramuka



Pendidikan Karakter melalui Praja Muda Karana

Tawuran antar pelajar, perkelahian antar remaja geng motor
Maraknya pencurian oleh remaja, keterlibatan remaja dengan Narkoba
Meningkatnya remaja yang terinveksi penyakit HIV/AIDS.
Tren remaja bunuh diri hanya karena suatu masalah sepele.
Adakah ini pertanda bahwa anak kehilangan model berkarakter?


            Sejatinya model yang paling pertama dan utama bagi anak adalah orang tuanya sendiri. Setelah itu guru disekolah. Karena guru merupakan orang tua kedua setelah orang tua kandung. Apabila kedua figur itu tidak dipakai model leh anak, maka pemodelan akan dicari dari tokoh-tokoh lainnya. Sepereti tokoh pahlawan bagi mereka yang memiliki jiwa patriotik. Tokoh seniman bagi anak yang mengidolakan seni dalam jiwanya. Akan tetapi tidak jarang anak-anak sekarang mencari pemodelan lewat tayangan  TV, Internet, majalah atau cerita-cerita yang memuat tentang tokoh tertentu yang terkadang kurang tepat.
            Ketika anak mencari model diluar keluarganya, itu berati bahwa orang tua tidak cukup waktu untuk menemani anak di rumah. Akibat dari tuntutan hidup yang semakin tinggi. Orang tua pergi kerja pagi hari kemudian pulang sore hari. Karena kondisi payah, maka waktu untuk bercengkrama dengan anak pasti kurang. Sementara si anak sendiri sibuk dengan berbagai kegiatannya sendiri. Jarang terjadi komunikasi keluarga disaat makan bareng di ruang makan.  Karena anak sering disibukan dengan tugas sekolahnya di warung internet. Saking jarangnya terjadi komunikasi intim antar keluarga, maka anak cendrung berkomunikasi  akrab dengan teman sebaya atau teman yang lebih tua. Yang terpenting bagi anak adalah adanya rasa kebersamaan dalam keakraban. Disamping itu, anak sering disuguhkan cerita dalam tayangan sinetron yang mampu menggugah hati si anak. Dari tokoh pesinetron itulah terkadang yang menjadi idolanya. Meski tokoh yang diidolakannya itu tidak jelas asal muasalnya, namun pada tayangan sinetron itu yang tampilannya kren dengan mobil mewah, pamer kekayaan, bergaya modern, maka anak akan mengatakan “oh yang ini gue banget”. Akankah kita biarkan anak kita hidup bebas tanpa arah dan tujuan yang jelas?. Kebebasan serta kemanjaan yang diberikan orang tua tidak jarang disalah artikan oleh anak. Kebebasan itu sering dipergunakan diluar keluarga. Sehingga terbentuklah kelompok-kelompok kecil yang banyak salah arah dan salah tujuan. Hal itu disebabkan kematangan mereka yang boleh dibilang masih labil.
            Bilamana pendidikan di keluarga tidak optimal dapat dilaksanakan oleh orang tua akibat dari persaingan hidup yang keras, maka sekolahlah menjadi tumpuan bagi orang tua untuk membina anaknya. Tidak jarang orang tua menyerahkan begitu saja anaknya kepada instansi sekolah. Padahal waktu anak di sekolah adalah sepertiga dari waktu keseluruhan. Sedangkan dua pertiga waktu anak ada di rumah. Apabila hubungan komunikasi anak dikeluarga tidak baik, akan berdampak pada susahnya pembinaan di sekolah. Disamping orang tua mengarahkan anaknya pada pendidikan formal, ada baiknya pula orang tua mengarahkan anaknya untuk megikuti ekstra kulikuler Pramuka. Kenapa anak perlu diberikan pendidikan  Pramuka?.
            Pendidikan kepramukaan menggunakan sistem Among. Sistem ini hasil pemikiran Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan Nasional, sebagai pendiri perguruan Taman Siswa. Sikap laku yang diterapkan oleh pembina yaitu Ing arso asong tulodo( di depan memberi teladan), Ing madya mangun karso( di tengah –tengah membangun kemauan), Tut wuri handayani( di belakang memberi dorongan). Sistem Among berarti : mengasuh, memelihara, menjaga, merawat. Yang melaksanakan sisten Among dikenal “Pamong” atau pembina. Proses pendidikan dengan menggunakan sistem among mengedepankan cara kekeluargaan. Sebutan peserta didik dalam usia Siaga(7 – 10 tahun) adalah anak, pamong atau pembina dipanggil ayah dan ibu. Pendidikan pada usia ini peserta didik masih memerlukan pengasuhan seperti anak-anak dalam sebuah keluarga.  Dalam pertemuan atau pemberian pengarahan dilapangan menggunakan barisan membentuk lingkaran. Dengan maksud agar pamong/pembinanya menjadi model. Sehingga bila peserta didik mengalami masalah pasti akan mengadu kepada pembina sebagai ayah dan ibunya. Kode kehormatan yang dipergunakan untuk Siaga yaitu Dwi Satya dan Dwi Dharma. Tingkat kecakapan untuk anak siaga yaitu Siaga Mula, Tata bantu dan Siaga tata. Bilamana usia peserta didik  telah menginjak 11-15 tahun maka peserta didik akan naik golongan menjadi Penggalang. Dalam bentuk pertemuan dalam pelatihan penggalang sudah mulai membuka diri, sehingga setiap berkumpul penggalang membentuk barisan seperti huruf “U”(angkare), Maksudnya peserta didik dalam usia penggalang sudah mulai membuka diri terhadap lingkungan, belajar memahami masyarakat meski masih dibatasi. Pembina dipanggil Kakak, peserta didik dipanggil Adik. Hal ini untuk lebih terjadinya kedekatan anatara pembuna dan peserta didik Pada usia penggalang, peserta didik ditanamkan pendidikan yang bersifat akhlak mulia, ketangkasan, kecakapan hidup patriotisme cinta bangsa tanah air, mengembangkan wawasan, daya imajinasi dan daya cipta, rasa percaya diri, bertanggung jawab, sosial gotong royong, peduli lingkungan  serta toleransi.kesemuanya tertuang dalan SKU(syarat kecakapan umum) dan SKK ( syarat kecakapan khusus ). Dalam kepenggalangan, dilihat dari kecakapannya ada tiga tingkatan yaitu: Penggalang Ramu, Rakit dan Terap. Kode kehormatan untuk tingkat penggalang, penegak dan pendega adalah Tri Satya dan Dasa Dharma. Apabila usia peserta didik menginjak pada 16-20 tahun seusia SMA dan mahasiswa dinamakan Penegak atau Pendega. Golongan penegak terbagi atas dua yaitu penegak Bantara dan penegak Laksana. Sementara bagi mereka  pada usia 21-25 tahun dinamakan pemuda dewasa. Pendidikan kepramukaan sangat memerhatikan tingkat usia dan perkembangan peserta didiknya. Pada golongan Penegak dan Pendega, pertemuan dilapangan berbaris menggunakan satu saf(satu barisan lurus ke kanan) mengandung makna, peserta didik sudah boleh membuka diri secara luas kesemua arah. Tujuannya agar peserta didik dalam usia penegak dan pendega mampu membuka diri, memiliki pengetahuan dan wawasan kedepan  yang luas.
            Sistem beregu atau berkelompok wajib diterapkan dalam pendidikan Pramuka, dengan satuan terpisah antara peserta didik putra dan putri.  Pada pendidikan kepramukaan kemampuan peserta didik benar-benar diperhatikan antara hard skill   yaitu  kemapuan logika pikir (IQ), serta soft skill yaitu kemampuan Spiritual(SQ), kemampuan Emosi (EQ) serta kemampuan menghadapi tantangan hidup (AQ). Program kegiatan kepramukaan selalu memerhatikan tingkat perkembangan jasmani dan rohani peserta didiknya. Sehingga pertumbuhan dan perkembangan peserta didik  terjaga keseimbangannya  bukan secara instan. Adapun sasaran pembinaan bagi pserta didik yaitu: kuat keyakinan beragamanya, tinggi mental dan moralnya serta berjiwa Panca Sila, sehat dan segar jasmani, cerdas, tangkas dan terampil, berpengetahuan luas dan dalam, berjiwa pemimpin dan patriot, berkesadaran nasional dan peka terhadap perubahan lingkungan, berpengalaman banyak. Seperti  yang tertera dalam Dasa Dharma Pramuka yaitu : (1).Bertaqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa (2).Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia; (3). Patriot yang sopan dan ksatria;(4) Patuh dan suka bermusyawarah; (5) Rela menolong dan tabah; (6)  Rajin trampil dan gembira; (7) Hemat cermat dan bersahaja; (8) Disiplin , berani dan setia; (9) Bertanggung jawab dan dapat dipercaya;(10) Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan. Seperti sinetron  Lima  Elang yaitu  anggota regu penggalang  ditayangkan oleh salah satu stasiun TV terkenal, tayangan yang patut dan tepat ditonton oleh kalangan pelajar.
Bukankah semua itu merupakan bentuk pendidikan yang berkarakter yang diharapkan dalam penyempurnaan kurikulum pendidikan yang akan datang ?. Bila hal itu benar adanya, maka tidak salah apabila Mendiknas beserta jajarannya  mengarahkan untuk pendidikan dasar dan menengah mewajibkan peserta didik dan pendidik mendapatkan pendidikan Kepramukaan. Semoga bangsa ini tidak kehilangan nilai-nilai karakter, sehingga tidak terjadi negara yang kehilangan karakter “Black Nation”.

                                                                                                                  I Nyoman Musna

Bencana datang dari Keserakahan



Bencana datang dari Keserakahan


Makan dan minum berlebihan menyebabkan sakit pada badan
Air hujan turun berlebihan berakibat banjir bandang
Angin datang dengan kecepatan berlebihan menjadi badai topan
Panas datang melebihi keadaan biasanya menyebabkan kekeringan
Api sebagai panas bumi berlebihan akan berakibat gunung meletus
Hiduplah harmoni dengan Panca Maha Butha

            Ketidak-seimbangan penyebab dari segala bentuk bencana. Baik pada alam kecil(mikrokosmos) ataupun pada alam besar (makrokosmos). Alam beserta isinya tecipta dari keseimbangan dengan hukumnya bernama Rta. Manusia sebagai makhluk berpikir dan berakhlak dititipkan untuk ikut menjaga keseimbangan semesta. Namun,  manusia sendiri memiliki ego kepemilikan yang begitu besar, maka tidak jarang ke-ego-an itu manusia  menjadi lupa diri untuk menguasai alam.
Berawal dari rasa kepemilikan manusia yang kuat itulah ikut memberi andil pada ketidak seimbangan alam, kemudian mempercepat timbulnya berbagai bencana.
            Untuk menjaga keseimbangan diri manusia terhadap keseimbangan alam dalam menjalani kehidupan, oleh para tetua kita mengkonsepkan sebuah tatanan hidup harmoni yang dikenal dengan pilsafat “Tri Hita Karana” yaitu tiga penyebab untuk meraih hidup harmonis dan bahagia.
Pertama, hubungan harmoni dengan Sang Pencipta alam ini dengan hidup penuh tawaqal dan bersyukur; kedua, hubungan harmoni dengan sesama hidup dengan pemahaman bahwa semua yang hidup adalah bersaudara( vasudewa khutum bhakam) dan yang ketiga, hidup harmoni dengan alam itu sendiri, karena alam semesta itu juga diri kita sendiri. Apabila konsep keseimbangan itu dapat teraktualisasikan dalam kehidupan secara sadar dan bijak, niscaya keseimbangan hidup dengan alam akan dapat  terjaga. Selanjutnya bencana alam akan dapat diperjarang meski untuk menjadi nihil bencana adalah nisbi, karena alam itu sendiri tetap mengalami perubahan sesuai dengan usia alam yang semakin renta.
            Pada musim penghujan tahun ini hampir diseantero tanah air mengalami banjir. Hampir tiap hari dalam siaran TV menampilkan bencana banjir dan tanah lonsor. Kota Jakarta misalnya, dengan gubernurnya yang baru dilantik sudah bertarung bak pendekar melawan kondisi bajir disetiap sudut jakarta. Kalau saja kita boleh menyebutkan pak gubernur sebagi “pendekar banjir”. Berlebihnya air yang turun dari langit berupa curah hujan tinggi berakibat banjir bandang, itu benar adanya. Disamping curah hujan yang turun tinggi, manusia sendiri mempunyai andil sebagai penyebab banjir, seperti kurang disiplinnya masyarakat membuang sampah. Dari hulu bukit dan gunung digunduli, sementara di hilir tanah ditutupi beton-beton dengan angkuhnya gedung betingkat dimana-mana. Padahal telah telah diingatkan dalam ritual  Wana Kertih, Segara Kertih dan Danu Kertih. Adapun  ritual itu dapat dimaknai sebagai peringatan pada kehidupan untuk selalu menjaga hutan, laut dan danau agar tetap dijaga keberadaannya. Bukan untuk dieksploitasi untuk kepentingan individu atau kelompok tertentu.  Kurangnya tanah kosong yang tersedia sebagai resapan air disaat masim hujan. Hampir disetiap jengkal tanah diperkotaan ditanami beton dan diaspal, sehingga air tidak bisa terserap ke tanah. Ketika tidak adanya tanah lapang sebagai resapan, maka semua alir mengalir ke laut, dalam kurun waktu singkat manusia kekurangan air bawah tanah. Pada kondisi seperti ini pak gubernur jakarta mengintruksikan setiap rumah tangga dan bengunan gedung perkantoran  untuk membuat lubang resapan air hujan yang dikenal Biopori.  Untuk konsep semacam biopori ini, nenek moyang orang bali sejak jaman dulu  telah menyediakan ruang berupa lahan kosong dipekarangan rumah yang disebut karang luang atau karang embang. Tempat ini sering ditanami pohon buah dan tempat memelihara ternak sehingga dalam konteks harmoni dan pilosofinya ada perayaan Tumpek Wubuh (upacara untuk harmoni dengan tumbuhan) dan Tumpek Kandang (upacara untuk harmonis dengan binatang) . Pekarangan embang inilah sebenarnya dipakai meresapkan air kedalam tanah, sehingga banjir dapat dihindari dirumah tangga, namun sekarang karang embang tinggal kenangan dalam kenangan. Kerena setiap jengkal tanah yang ada dalam pekarangan rumah dipaping dan dibeton sehingga air hujan singgah ke kamar tidur. Banjar dapat berdampak pada rusaknya pemukiman penduduk, sulitnya mendapatka air bersih, rusaknya sarana prasarana penduduk, rusaknya areal pertanian, timbulnya berbagai penyakit, terhambatnya transportasi darat yang berakibat pada terhambatnya laju perekonomian masyarakat.
Untuk menghindari air hujan begitu lama menggenangi pekarangan rumah, kiranya dapat dibuat Lubang Resapan Biopori.
            Apakah Lubang Resapan Biopori(LRB) itu, bagaimana cara membuatnya?
Lubang resapan biopri adalah sebuah lubang vertikal di tanah, dengan diameter lubang  10 cm dengan kedalaman sekitar satu meter. Biopori itu sendiri merupakan pori-pori berbentuk lubang(terowongan kecil) yang diberdayakan oleh aktivitas fauna tanah atau aktivitas akar tanaman, ketika mencari makanan(kompos) yang telah disediakan dalam lubang( Khamir R Brata, 2007). Lubang resapan biopori adalah teknologi tepat guna dan ramah lingkungan, karena relatif mudah dilakukan serta dapat memelihara berlangsungnya proses-proses fisik, kimia, dan biologi. Penerapan Lubang Resapan Biopori dapat mengakibatkan perbaikan lingkungan perkotaan. Fungsi yang dimiliki oleh LRB adalah untuk : (1) memanfaatkan sampah organik menjadi kompos, (2) meningkatkan peran aktivitas biodeversitas tanah dan akar tanaman; (3) mengurangi emisi gas-gas rumah kaca CO2 dan metan; (4) meningkatkan laju peresapan air dan cadangan air tanah, dan (5) mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh genangan air seperti penyakit demam berdarah dan malaria.  Dengan pertumbuhan penduduk yang semakin padat, lahan semakin menyempit yang dipenuhi dengan areal pemukiman sangat padat, maka Lubang Resapan Biopori merupakan hal penting dilakukan disetiap rumah tangga agar dapat terhindar dari kondisi terendam banjir.
            Apabila kita renung sejenak, bertanya pada diri kita makna dan pesan apakah yang dapat kita petik di balik  sebuah bencana?. Sepertinya alam berpesan bahwa manusia diingatkan untuk tidak serakah untuk mengeksploitasi alam. Semestinya alam dihormati sebagai rumah tinggal bersama hidup berdampingan penuh harmonis dengan konsep cintai diri cintai alam, sayangi diri sayangi alam. Karena alam sendiri merupakan Ibu dan Bapak sebagai pemberi hidup dalam kehidupan ini. Akankah kita biarkan alam menangis sedih dan akhirnya murka hanya karena keserakahan kita?. Tentu jawabnya Tidak!
            Meskipun bencana alam terutama banjir tidak dapat kita hindari seratus persen, namun kita tidak ikut campur mempercepat proses perusakan alam.  Dengan bercermin kepada kearifan tetua kita yang selalu hidup harmoni dengan alam melalui konsep Tri Hita Karana, mari kita bersama pahami bahwa Alam adalah sahabat sejati kita, tanpa alam apalah jadinya kita, karena alam sendiri memberi hidup buat manusia. Kelahiran manusia ke dunia bukanlah untuk menguasai alam, dengan mengeksploitasi alam secara berlebihan. Ingatlah bahwa alam tidak akan mampu memenuhi nafsu keserakahan manusia, akan tetapi alam hanya mampu memenuhi kebutuhan hidup manusia.  Mari kita galakkan penghijauan dengan motto “Semilyard Pohon”, baik dilakukan  secara perorangan maupun secara kolektif. Swasta maupun pemerintah mesti bergandeng tangan menjaga alam kita agar tetap hijau, udara jadi segar bencana banjir dapat berkurang. Sehingga pemahaman atas Wana Kertih dan Danu Kertih bukan berhenti pada tatanan ritual, akan tetapi lebih jauh dapat dipahami sebagai aktualisasi diri untuk menjaga kelestarian hutan dan danau sebagai sumber kehidupan. Selanjutnya mari kita maknai sebuah bencana sebagai jalan kesadaran diri untuk selalu hidup berdampingan secara harmonis dengan alam. Jangan hendaknya serakahi alam dengan keangkuhan dan ego kita.

                                                                                                I Nyoman Musna