Kamis, 16 Januari 2014

Dari IQ menuju "QQ"



Melangkah dari Kecerdasan Spiritual menuju  Pembebasan
           
Tatkala kesadaran Atma melebur dengan kesadaranMaha Agung
Maka yang tersisa hanyalah kebahagiaaan tanpa batas
( great happiness: pen)

            Disetiap perenungan akan muncul pertanyaan untuk apa sang Pencipta memberi kecerdasan setiap insan kehidupan? Apakah hanya untuk mempermudah melakukan kehidupannya? Ataukah kecerdasan itu ada memang sebagai pelengkap dari proses penciptaan? Adakah suatu kecerdasan yang dapat membebaskan diri dari proses penciptaan menuju ke- keabadian? Pertanyaan seperti itulah yang sering menghantui diri disetiap perenungan kapan dan dimana perenungan itu dilakukan.
            Telah diketahui   bahwa kecerdasan yang sudah diperkenalkan oleh para ahli psikologi seperti Kecerdasan Intelektual atau Intelligence Quotient (IQ)pertama kalai dilontarkan oleh Alfried Binet, seorang psikolog Perancis pada awal abad ke-20. seterusnya jelang akhir abad ke-20 oleh Daniel Goleman memomulerkan Kecerdasan Emosional atau Emotional Quotient (EQ). Manusia dianggap cerdas bukan hanya dari kemempuan inteketual semata, akan tetapi perlu memiliki hati nurani yang bersih( Positif filing  better than positif thanking).  Kemudian ditengah derasnya arus globalisasi, EQ dirasa belum cukup. Maka munculah Kecerdasan Spiritual atau Spiritual Quotient (SQ) di abad ke-21 atas hasil riset Danah Zohar(Harvard University) dan Ian Marshall(Oxford University). Bahwasanya didalam otak manusia ada yang namanya God Spot Daerah ini dianggap sebagai pusat spiritual(spiritual center) yang letaknya diantara jaringan otak dan saraf yang memintal jalinan makna pengalaman hidup.
Dengan adanya kecerdasan seperti itu, apakah akan  menjamin untuk setiap insan kehidupan meraih pembebasan? mengingat tujuan hidup setiap insan adalah kelanggengan abadi(immortality). Kebahagian abadi melalui kesadaran supra, kedamaian abadi, itu semua hanya kata-kata indah dalam melukiskan sebuah nikmat kesadaran abadi. Permasalahan dan pertanyaan yang mungkin muncul pada diri kita, apakah kita cukup hanya terpuaskan  dengan kata-kata indah itu? Apabila jawabnya tidak, maka hendaknya jangan berhenti sampai disana. Teruskan langkah menuju ke kesadaran yang lebih dalam serta alami, bukan sekedar berteori. Seperti halnya hendak melihat bulan. Menghadaplah keatas lihat bulan dilangit, bukan di tempayan yang berair, karena bulan yang tampak pada tempayan itu hanyalah bayangan.
  Tujuan hidup pada dasarnya adalah menyadari adanya lapisan jiwa(Atma) yang lebih tinggi disebut Diri sejati yang bersemayam didalam diri, dan mengintegrasikan diri itu dengan alam sadar kita setiap hari. Ketika kesadaran kita sudah melewati kesadaran materi dengan kecerdasan IQ dan EQ, maka selanjutnya menuju kesadaran jiwa(Atma) melalui kecerdasan SQ. Dari kesadaran diri sebagai Atma maka menuju ke kesadaran Agung Parama Atma. Kesadaran Atma merupakan kereta kencana untuk ditumpangi agar sampai pada kesadaran hakiki( dari kesadaran transenden ke imanen). Tuhan dalam diri kita hanya terwujud apabila kita mengharuskan diri kita kepada pengendalian. Tuhan bekerja dalam diri tetapi ini memerlukan usaha supaya Dia bersinar kesegala penjuru. Demikian tertuang dalam Upanisad-upanisad Utama. Demikian pula halnya Atma yang ada pada setiap mahluk. Bagai mentega ada dalam susu, seperti api yang tersembunyi pada kayu.
            Kecerdasan Spiritual sampai saat ini dipandang sebagi kecerdasan yang paling tinggi. Dari kecerdasan spiritual yang bersinar cemerlang,  tidak jarang ditemukan pengetahuan yang sulit dicerna dengan kecerdasan yang lain( IQ dan EQ), mungkin bisa kita sebut pengetahuan universal ( univers of knowlages). Pengetahuan semacam ini  dikenal dengan Wahyu yang sering di terima oleh para mahayogi. Ketika kecemerlangan cahya spiritual berkembang memenuhi cakrawala pikiran dan hati nurani, maka bunga cinta kasih universal akan mekar menebar kedamaian, ketentraman, kebahagian serta kebijaksanaan. Kesadaran dan cinta kasih universal terus bertumbuh, kemudian berkembang menuju kesadaran cinta kasih Maha Agung. Kondisi seperti ini akan bisa terjadi apabila kesadaran diri sang Aku sebagai jiwa (Atma) dapat melebur kepada kesadaran sang AKU( Maha Agung). Inilah saat Samadhi yang dialami bagi sang meditator(great unity). Keadaan ini dapat diumpamakan bagi air hujan yang telah menyatu dengan air laut. Tak ada lagi pemisahan  mana air hujan, yang tampak hanyalah kilauan air laut di samudra luas. Tiada lagi batas-batas pemisah antara Aku-Kamu, tiada lagi sekat – sekat, tiada lagi Nama, Rupa, dan agama. Hanya penyatuan dengan yang Agung maha luas sempurna. Yang dapat dirasakan hanyalah  kebahagian diatas kebahagian(unlimited happiness). Kemudian pada saat seperti ini japa yang dilantunkan merupakan mantram sangat pingit yaitu “ Aham Brahma Asmi”. Demikian selanjutnya, apabila kesadaran ini dapat terus terjaga dalam kehidupan sehari-hari, maka akan mampu mengaktualisasikan nilai-nilai dalam pilosofi “Tatwam Asi” dan “Vasudewa Kutumbakam”.
            Jalan menuju  kesadaran kebebasan hanya akan dapat ditempuh apabila mampu melepaskan diri dari keterikatan material(maya) menuju kesatuan yang hakiki(absolut), melalui kesadaran dan Kecerdasan Spiritual(SQ). Hanya keterikatan pada sang Maha Agung-lah akan mampu kembali kepadaNYA, sementara keterikatan kepada yang lainnya(maya)  patut di Yadnya-kan.

                                                                                                I Nyoman Musna,20.02.12

"Nyapu" Membersihkan Karang diri



Meditasi disaat Menyapu sembari membersihkan “karang diri”

( I Nyoman Musna )

            Suatu ketika, seorang sahabat namanya Ibu Kyoko yang berasal dari Tokyo-jepang. Sahabat saya ini sudah lama tinggal di bali (kuta), bahkan telah memeluk agama Hindu kurang lebih dua puluh lima tahun . Pada satu ketika Ibu Kyoko berkata pada saya, mengapa disaat saya menyapu di halaman rumah, saya merasakan  kebahagiaan dan kedamaian yang mendalam ? Kenapa demikian? Pertanyaan itu  terasa sederhana, akan tetapi bila kita telusuri secara perlahan dengan tenang dan mendalam , ternyata mengandung sarat makna. Lebih jauh sahabat ini mengatakan, pada saat menyapu itu terasa imajinasinya seperti melukis diatas kanvas semesta. Garis – garis yang tergurat di tanah seperti irama kehidupan yang indah. Bergelombang seirama dengan konsep Rwa Bhineda ( the beauty of Rwa Bhineda). Kehidupan itu terkadang mengesankan, terkadang membosankan. Siang – malam datang silih berganti. Suka-duka sebagai hiasan perjalalan hidup. Seiring dengan sangkakala memutar waktu. Sementara sampah yang terkumpul merupakan kekotoran badan, pikiran dan rasa. Nah, adakah perasaan yang sama pernah kita rasakan seperti apa yang sahabat itu rasakan ?
            Apabila kita telisik lebih jauh ke dalam rulung hati yang dalam, mungkin akan ada jawabnya “ya benar”. Hanya saja kita sulit mengungkap suasana hati saat itu. Kita hanya membiarkan semua kesan sebagai kesan tanpa arti atau kita anggap biasa-biasa saja. Karena kita tidak mau meribetkan diri dengan konsep perasaan saat usai menyapu itu. Adalah memang benar menyapu merupakan landasan dasar untuk melakukan pembersihan diri, baik secara lahirian maupun batiniah. Secara lahiriah hasil yang nampak yaitu pekarangan yang kita sapu akan nampak bersih, segar,  dan nyaman. Sementara bila kita telusuri perasaan bathin kita akan ada perasaan indah, penuh kejernihan, segar dan kegembiraan menikmati suasana pekarangan bersih. Itu tentu tidak dapat kita pungkiri.
            Mari kita coba alihkan pikiran kita sejenak pada suatu suasana. ketika para calon bante atau bikkhu penekun spiritual ke-Budhaan.  Melakukan kegiatan menyapu di suatu pesraman(bhiara) atau kuil, seperti sering kita lihat dalam film kungfu shaolin. Pekerjaan menyapu di bhiara atau kuil merupakan sebuah kewajiban dilakukan setiap waktu. Dengan menggunakan bentuk dan kualitas sapu yang berbeda. Pekarangan yang agak kotor penuh sampah dan berlumpur digunakan sapu yang keras ( sapu lidi ). Pekarangan yang agak halus dibersihkan dengan sapu ijuk. Sedangkan ruang meditasi atau ruang pemaparan dhamma dibersihkan dengan sapu yang terbuat dari rumput halus. Makna apakah yang tersirat dari ketiga bentuk cara menyapu dengan alat yang berbeda tersebut? Secara tidak langsung, bahwa pelaku pembersihan itu diajarkan untuk selalu sadar untuk mebersihkan diri seutuhnya setiap saat. Pertama yang dibersihkan itu adalah tubuh(badan kasar),  agar tetap terjaga kesehatan dan kesegarannya melalui mandi teratur sampai ke tingkat melukat,  mandi matahari sambil melakukan gerakan asana surya namaskara, olah raga yang teratur dan makan makanan yang sehat(satwika). Sehingga dengan badan sehat dan kokoh akan dapat bertahan  dari berbagai penyakit  . Kedua yang dibersihkan adalah pikiran, Pikiran seharusnya dibersihkan dengan olah pikir dengan sadhana (meditasi) berdoa, berjapa atau nama smaranam (mengulang-ulang nama Tuhan) setiap saat. Sehingga  rasa ego dan kemelekatan terhadap kepemilikan, kemampuan diri bahwa  kita yang paling hebat, merasa paling pintar, bahkan sampai stress memikirkan sesuatu yang bernilai maya, dapat dihindari. Ketiga yaitu membersihkan perasaan dengan olah rasa.  Perasaan itu sering diselimuti oleh kekotoran bathin. Seperti rasa sombong, benci, rasa dengki, iri hati, kecewa yang berlebih sampai defresi berat. Dapat dilakukan dengan  rasa beryukur, rasa welas asih, dan tepo selero terhadap kondisi dan situasi diri sendiri serta penderitaan orang lain.
            Bilamana ketiganya telah mampu dibersihkan setiap saat, maka nilai-nilai keindahan, ketenangan dan kedamaian akan bertumbuh dengan sendirinya pada karang diri. Bukankah ini merupakan tahapan dasar sebuah perjalanan meditasi spiritual ? Bila itu benar adanya, maka jangan hendaknya kita merasa malu untuk selalu melakukan kegiatan menyapu di karang diri. Baik itu menyapu secara sekala(kasat mata) guna membersikan badan dan lingkungan, atau menyapu secara spiritual(niskala) untuk membersihkan pikiran dan perasaan. Mari kita sadari bahwa bersih itu merupakan bagian dari iman. Membersihkan karang diri harus dimulai dari diri sendiri. Rawatlah selalu karang diri agar selalu bersih, indah dan penuh kedamaian. Ketika karang diri dapat tetap terjaga dari kondisi bersih lahir dan bathin, penuh harmoni, sadar dan bijak. Maka cahaya mentari kesadaran spiritual akan selalu bersinar menerangi perjalanan kehidupan kita saat kini dan selamanya.


 


 










 

            

Face Book wajah Maya yang Genit



“FACE BOOK”
WAJAH MAYA YANG MENGHEBOHKAN


            Face book adalah dua buah kata asing yang terdiri dari kata face (feis) yang berarti muka; bidang; pihak; depan; atau melihat mukanya berhadapan. Sedangkan book  (buk) artinya buku; mendaftarkan; membukukan ( kamus bahasa inggris; Rudi Haryono,Drs.,dkk).  Jadi face book berati pendaftaran diri atau membukukan diri dengan menampilkan wajah serta identitas diri seperti nama, usia, pekerjaan, hobi dan yang lainnya pada sebuah jejaring sosial di internet.
            Adalah Mark Zukkerberg, 25 tahun berasal dari Amerika, seorang yang menemukan fase book yang kini sedang “ngetren” serta digandrungi oleh masyarakat terutama anak-anak dan remaja. Sistim jejaring sosial ini sepertinya pengganti dari model Korespondensi(surat-menyurat), bedanya korespondensi pengirimannya melalui paket Post. Sementara face book lewat media internet atau lewat HP dengan wajah pengirim dan penerima berita tertera dalam beranda. Adapun tujuan dari pembentukan jejaring sosial face book tiada lain untuk mencari teman atau sahabat/kerabat lewat dunia maya dalam waktu singkat dan jarak tiada batas. Betapa tidak orang Amerika, jepang, atau orang Belanda dapat kita temui dan berkenalan hanya dengan biaya dua ribu sampai tiga ribu rupiah saja sudah cukup. Dengan datang ke warnet di depan rumah atau buka leptop  disammbung internet di kamar, dan  buka yang namanya face book , maka  sudahlah, ribuan wajah akan tertera dengan berbagai bentuk. Cuma memang ada yang disayangkan, tertera namanya si Anu, sementara wajah yang tampak “monyet”, atau “bulan”. Yang seperti ini tidak fair namanya, sudah menyimpang dari aturannya. Ini salah siapa?
            Dalam perjalanannya, jejaring sosial face book banyak mendapat kritikan serta cemohan bahkan di”haram”kan. Kontropersial di kalangan masyarakat mulai muncul. Ada yang menginginkan face book harus dihapuskan, karena berpengaruh buruk bagi generasi muda. Akibat dari face book , guru dimaki-maki oleh seorang siswanya entah  apa penyebabnya, mungkin guru tak disengangi siswanya. Ada pula berita di mass media mengatakan dengan face book orang membuat jeringan “perdagangan  sex”. Disamping itu pula lewat face book siswa Sekolah Dasar memaki temannya hingga dapat menimbulkan perkelahian antar geng siswa, hingga orang tuanya garang.   
            Pertanyaan yang dapat dikemukakan adalah semua kejadian itu salah siapa? Salahnya alat atau salah orang memahami serta menggunakan alat? Jawabnya adalah salah “si pengguna” alat ( the man behind the internet) yang belum memahami dengan benar fungsi serta makna dari jejaring sosial face book. Untuk itu dituntut bagi pengguna alat untuk betul-betul mengerti serta memiliki wawasan terhadap budaya teknologi modern. Sadarlah bahwa teknologi bagai pisau bermata dua. Akan dapat berguna dalam hidup tapi dapat pula menghancurkan kehidupan. Disamping itu, pentingnya peran orang tua, guru, serta masyarakat sebagai alat kontrol. Anak-anak jangan terlalu dimanjakan dengan alat teknologi, karena akan berdampak pada pemanjaan pada si anak itu sendiri. Seperti pepatah mengatakan “dari kecil teranja-anja, maka setelah besar terbawa-bawa”.  Artinya jika sejak dari kecil biasa dimanja, maka akan terbawa sampai besar nanti. Namun demikian jangan hendaknya terlalu dikekang, akibatnya anak akan jadi gagap teknologi ( gaptek). Jadi lagi sekali yang terpenting adalah pengawasan dan pemahaman yang benar terhadap semua sarana(teknologi). Sehingga tujuan mulia dari ide sang pembuat face book tidak menjadi sedih dan menyesalai hasil karyanya.  Seperti halnya penemu “bom”  Albert Einstain yang mana hasil temuannya disalah gunakan untuk tujuan perang (mungkin kini dia sedih di alam baka hasil penemuaanya salah digunakan).  Maka dari itu, tidak salah bila kita mau belajar dari kesalahan untuk menuju kebaikan . Orang bijak mengatakan “ bergurulah pada kesalahan untuk menjadi lebih bijaksana”, bukan sebaliknya, belajar dari yang salah menuju salah yang lebih besar. Wah, kalau begitu kapan majunya?
                                                   ( oleh: I Nyoman Musna)

Rabu, 15 Januari 2014

Tigapuluh Tahun Mengabdi



TIGA PULUH TAHUN
“NGAYAH” DIDUNIA PENDIDIKAN
SINCE 1982
 
 



Beryadnya melalui pengetahuan adalah Mulia
Mencurahkan pengetahuan  dengan kemampuan  pikiran, itu Mengajar
Mencurahkan pengetahuan dengan hati nurani, itu Mendidik
Mencurahkan pengetahuan dengan mengalami, itu Melatih
Mencurahkan pengetahuan dalam pemahaman hidup, itu Menyadarkan
Mengajak dan mengarahkan kejalan spiritual, itu Membebaskan
( I Nyoman Musna )

            Pilosofi  :      Siapakah Sang Pendidik (Guru ) itu?
Dia adalah yang bertanggung jawab atas pelaksanaan pendidikan(Umar Tirta dan La Sula)
Dia adalah seorang yang berjiwa besar terhadap masyarakat dan negara(M. Ngalim Purwanto)
Dia adalah lebih dewasa yang mampu membawa peserta didik kearah kedewasaan.
( Wiji Suwarno)
Dia adalah yang bertanggung jawab atas perencanaan serta menuntun peserta didik untuk melakukan proses pembelajaran guna mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang diinginkan( Oemar Hamalik)
Dia adalah seorang yang menjadi salah satu sumber belajar yang berkewajiban menyediakan lingkungan yang kreatif bagi kegiatan belajar peserta didik di kleas( Syaiful Bari Djmarah dan Aswan Zain)
© © ©

            Tiada terasa waktu berlalu begitu cepat, tanpa disadari waktu 30 tahun telah terlewati dengan mengabdi didunia Pendidikan. Waktu memang gaib  dan sulit dipahami. Dia berlalu menelan usia perjalanan setiap kehidupan. Semua kesan kenangan akan tertulis pada sebuah lembar memori kehidupan. Jika waktu 30 tahun kita urai dalam bentuk satuan kecil gaya metematika sederhana maka akan kita peroleh angka-angka seperti beriku:
30 x 12 bulan = 360 bulan , 360 x 30 hari = 10.800 hari (1 bulan=30 hari), 10.800 x 24 jam = 259.200 jam, 259.200 x 60 menit = 15.552.000 menit, sedang 15552000 x 60 detik = 933.120.000 detik.Hampir satu milyard detik sudah waktu terlewati didunia pendidikan, hal apakah yang dapat kita banggakan?  Seberapa besarkah nilai pengabdian yang dapat dirasakan oleh setiap mereka yang pernah kita bina dan kita didik ? Apakah semua dari mereka dapat merasakan pengetahuan yang pernah mereka serap di bangku Sekolah Menegah Sunari Loka, untuk mereka jadikan pengalaman hidup? Apakah mereka telah mampu menyalakan obor penerang kehidupan berupa pengetahuan kesadaran bagi dirinya? Ataukah mereka tersesat dikegelapan global yang amat sangat membingungkan dan menyesatkan? Ataukah memang kita belum mampu memberi apa-apa selama 30 tahun berlalu?
            Semakin dalam kita renungkan, semakin tak terhingga bentuk pertanyaan yang datang menyelimuti pikiran. Mungkin ini datang dari antusiasme seorang pendidik yang penuh harap agar setiap peserta didiknya mampu mengarungi kehidupan dengan mudah. Akan tetapi antusias seorang pendidik saja tidaklah cukup. Perlu kemampuan dan kemauan si peserta didik. Disamping yang terakhir adalah Samskara Karma( sisa karma masa lalu ) yang dibawa oleh setiap mereka. Kebanggaan yang paling dirasakan seorang pendidik adalah ketika peserta didiknya telah meraih kesuksesan dalam melanjutkan pencarian pengetahuan, mampu memahami dan menjalani hidup dengan bahagia,damai, sejahtera. Senyum si pendidik  akan terasa kulum ketika mantan peserta didik menyapa sang pendidik disetiap kesempatan bersua dengan ucapan “Oh bapak masih saja tetap segini,” sementara saya sudah segini dan punya anak sekian. Apakah bapak masih mengajar di SMP Sunari Loka? Nah itulah tegur sapa mereka yang sering terdengar akrab bagai jalinan Ayah dan Anak yang baru berjumpa dari bepergian jauh dan lama sekali.  Terkadang ada yang mengingat kembali bahwa sebuah keakraban yang mendalam terasa disaat perpisahan kelas. Pendidik selaku wali kelas bersama-sama peserta didik melakukan perpisahan kelas dengan santap nasi bungkus di kelas, sembari menunggu  tanda lulus (ijazah) diserahkan. Pesan terakhirpun terlontar oleh sang wali mengantarkan mereka menuju tujuan masing-masing. Kesan dan kenangan  ini terkadang mereka goreskan di dunia maya berupa Face Book. Bahkan mereka bertanya”Kapan ya ada reuni ”?, kangen loh sama Sunari Loka, bagaimana keadaan siswa sekarang?, Apakah bapak masih jadi wali kelas sembilan A?. Itulah tanya mereka.
Disaat seperti itu terasa sedikit berbunga hati sang pendidik, yang biasa wajahnya merenggut akibat jejalan tugas administrasi dan seabrek rencana persiapan pembelajaran di kelas serta tugas- tugas  lain yang secara rutin digelutinya .
            Bilamana kita buka lembaran kesan dan pesan yang mereka sampaikan disetiap akhir semester dan akhir tahun  pembelajaran. Yang paling menonjol kesan mereka adalah merasa senang dalam proses pembelajaran, suka akan adanya joke (canda-guyonan) disetiap pembelajaran, suka memberi motivasi untuk belajar dan motivasi menjalani hidup, dan juga yell yang sering digunakan sebagai motivasi belajar yaitu : I Can; I Do; I Will, I Be…Smart and The Best.  Mereka menyukai  proses pemblelajari diawali berdoa dan meditasi, menyenangi kondisi yang akrab penuh persaudaraan dikelas saat proses pembelajaran. Cepat memahami materi pembelajaran, tidak berbelit-belit, methoda bervariasi (tulis mereka). Sedangkan pesan mereka yang menonjol adalah berharap agar si pendidik meningkatkan dan mengembangkan kompetensi diri secara terus menerus. Itulah sekelumit kesan dn pesan yang mereka tuliskan, yang oleh pendidik dibaca dan dipahami, untuk dijadikan guru pembelajaran diri guna meningkatkan kualitas  dalam proses pembelajaran berikutnya.  Kesan setiap peserta ini amat sangat diperlukan oleh pendidik, kerena disetiap kesempatan muncul pertanyaan dalam hati sang pendidik: (1).Apakah saya sebagai pendidik yang baik?; (2) Apakah saya sebagai pendidik sudah mengajar dengan efektif?; Apakah saya sebagai pendidik sudah melaksanakan proses pembelajaran yang tepat?; (4) Apakah peserta didik berpikir serta mau aktif mengerjakan  materi yang diberikan?. Apakah pendidik sudah melakukan assesment dengan baik? Kegelisahan atas pertanyaan-pertanyaan itulah, maka pendidik berusaha menggali masukan lewat kesan dan pesan  serta penilaian  diri pendidik oleh peserta didik berupa kuisioner, dimana  mereka lakukan pada setiap akhir semester dan akhir tahun pembelajaran. Sementara kesan yang tiada pernah terlupakan oleh pendidik ketika pendidik mengajar memakai tongkat selama 6 bulan. Terkadang peserta didik satu kelas belajar ke rumah pendidik disaat kaki pendidik belum bisa bergerak jauh, akibat dari salah satu lutut  kaki mengalami keseleo disatu ketika lari sore(1986).
            Pendidik amat sangat memahami bahwa masih banyak perserta didik yang kurang menyenangi Matematika. Untuk itu disetiap awal pembelajaran pendidik mengulas kelebihan-kelebihan bila mereka dapat dengan baik mempelajari Ilmu Matematika. Karena dengan menguasai ilmu matematika maka mereka akan mudah dapat menguarai hambatan-hambatan hidup yang dijumpai sehari-hari. Hal itu dikarenakan ilmu matematika merupakan Basic of science. Matematika itu adalah penyelesaiaan suatu masalah dengan proses tertruktur, disiplin yang terurut, dan memiliki keterkaitan satu dengan yang lain serta diperoleh melaui proses pemecahan masalah yang bervariasi( William Bronell). Disamping juga ada beberapa makna serta kemampuan yang bisa dikembangkan melalui matematika berdasarkan pandangan dari Riedesel, Schwartz, dan Clements (1996) sebagai : (1) Matematika bukanlah sekedar aritmetika; (2) Matematika merupakan problem posing dan problem solving; (3) Matematika merupakan studi tentang pola dan hubungan; (4) Matematika merupakan Bahasa, karena menggunakn simbul-simbul; (5) Matematika merupakan cara dan alat berpikir; (6) Matematika merupakan ilmu yang berkembang secara dinamik; (7) Matematika adalah aktivitas (doing mathematics).
Diawal pembelajaran itulah amat penting bagi pendidik untuk menanamkan suatu bibit pemahaman awal tentang manfaat pembelajaran Matematika, kemudian disirami dengan berbagai selingan motivasi dirabuk dengan berbagai methoda. Selanjutnya perserta didik dibiarkan berkembang dengan kemampuan gerak, wicara dan pendapat mereka sendiri dalam proses pendewasaan berdemokrasi mengeluarkan pendapat, curah gagasan serta pandangan. Kemudian  diberikan reward baik berbentuk moril maupun materiil. Dengan demikian pendidik berharap secara perlahan-lahan peserta didik mulai merekahkan senyum keceriaannya untuk menyenangi proses pembelajaran matematika. Pendidik penuh harap agar setiap peserta didik tergugah dan tertantang untuk menekuni Matematika. Ibaratnya seorang pecatur yang sedang asyik bermain  catur dengan dampingan kopi dan kacang disamping kiri - kanan papan caturnya hingga lupa waktu, saking ayiknya.   Apakah selama 30 tahun berlalu ada peserta didik yang mengalami pembelajaran seperti bermain catur? Jawabnya ada pada peserta didik itu sendiri. Kita hanya mampu berusaha, berusaha dan terus berusaha.   Jangan pernah hati mesasa P u a s  dan Putus Asa atas apa yang pernah kita perbuat. Karena sangat disadari bahwa rasa puas dan putus asa itu  merupakan  halang rintang bagi sebuah perjalanan pendakian   
Semoga setiap mereka bertumbuh kemudian berkembang menjadi tunas-tunas kehidupan sejati yang mampu menghadapi derasnya gelombang samudra kehidupan maya ini.
Sementara itu si pendidik masih menyisakan sebuah pertanyaan yang selalu muncul dibenak:
” Apakah pendidik sudah layak disebut Guru?, dan mampu mendidik dirinya sendiri, seterusnya mengikuti jejak-jejak Sadguru?.
Maka biarkanlah Sang Waktu bersama  perjalanan Karma yang menjawabnya….!!!.
© © ©

            Tulisan ini bukan untuk apa-apa, dan memang tidak ada apa-apanya.  Hanyalah sekedar curahan renungan sore hari sembari menguak kelopak daun kering yang  menyelimuti kenangan. Sejurus pula dengan itu  untuk memperingati tiga dekade (30 Tahun) mengabdi di SMP Sunari Loka Kuta, sejak 29 Juli 1982 hingga 29 Juli 2012.

“ Kenangkan Ingat, Lupakan Jangan”
 Motto : “Hidup adalah Melayani serta Meyadnya untuk Pembebasan”

Guru itu  penerang jalan Kehidupan
Guru itu pembuka jalan Kesadaran
Guru itu yang Tercerahkan,
Guru itu pembimbing ke jalan Pembebasan.

“EVERYTHIING WE DO, DO IT  WITH  LOVE”
“LOVE ALL, SERVE ALL. LOVE  NEVER  DIE”
                                                                             © © ©
                                                                                                           (suwung, juni,23,2012)

Manusia di Zaman Kali



MANUSIA DI ZAMAN KALI YUGA

Mayy avesya mano ye mam nitya-yukta upasate
Sraddaya parayopetas te me yuktatama matah
                                            (Bhag.12.2)
Artnya :

Orang yang memusatkan pikirannya pada bentuk pribadi Tuhan dan selalu tekun menyembah-Ku dengan keyakinan besar dengan rohani dan melampaui hal-hal duniawi Aku anggap paling sempurna.

Syair Bhagawad gita ini mengisyaratkan bahwa kita tidak boleh melalaikan keyakinan dan kemantapan diri pada kepribadian Tuhan itu sendiri.
Tetapi pada kenyataannya pada jaman Kali seperti sekarang ini, kecendrungan manusia memuja Materi secara berlebihan. Manusia modern bekerja keras hanya untuk bertujuan memenuhi kebutuhan materi semata. Merka berjuang keras menuntut dengan segala macam cara untuk menjadi pemimpin atau pejabat degan tujuan agar kaya materi. Sebab setelah menjadi kaya, masyarakat menganggap mereka manusia yang berkualitas tinggi, berprilaku teladan dengan sifat-sifat terpuji tanpa peduli apakah keayaannya itu diperoleh dengan cara jujur atau curang.
Seorang Acarya terkenal diseluruh dunia Srila Prabhupada berkata bahwa motivasi kegiatan Kali Yuga adalah Profit ( keuntungan materi), pujian dan pujaan, serta kehormatan karena dianggap memiliki martabat paling tinggi diantara semua orang lain.
            Orang bijaksana berkata,”perang membunuh banyak manusia”. Tetapi kekayaan materi yang dijadikan tujuan hidup, membunuh manusia itu sendiri.
Didalam vedapun tertuang “ Kemanusiaan hancur karena kekayaan materi dipakai ukuran menentukan tinggi rendahnya suatu martabat kemanusiaan. Sementara akhlak dan moral dikesampingkan. Manusia diselimuti oleh beraneka macam keinginan untuk memenuhi kesenangan jasmani. Manusia menjadi kaminah (penuh nafsu), berpikiran pendek sempit dan picik dan licik.
            Selanjutnya manusia menjadi Lobha (rakus) serta durhaka, tidak memiliki rasa belas kasihan, suka bertengkar hanya disebabkan oleh masalah kecil.
            Jadi manusia pada jaman kali telah berpaling dari prinsip kesadaran rohani menjadi kesadaran jasmani, memuja serta mengutamakan Materi dan menomor-duakan kebhaktian kepada Tuhan.





                                               
                                                     
            Mahatma Gandhi lahir di Porbandar, Gujarat,India pada 2 Oktober 1869, kemudian meninggal pada 30 Januari 1948 pada usia 78 tahun. Beliau pernah mendapat penghargaan Nobel pada tahun 1989.
            Dengan memiliki kesadaran Ahimsa, Mahatma Gandhi selalu mengamati perkembangan kapasitas manusia dalam cinta kasih. Beliau selalu mendapatkan kebahagiaan di dalam semua badai dan tantangan hidup. Beliau tidak pernah melindungi dirinya sendiri, akan tetapi ia akan lebih menjaga prinsipnya tentang Ahimsa atau cinta kasih. Api cinta membakarnya setiap pagi, siang dan malam seperti api yang tidak dapat ditaklukan. Percaya diri dan tanpa rasa takut merupakan dasar filsapat Gandhi. Kekerasan menyentuh kelubuk hati manusia akan tetapi keberanian di dalam jiwa Ahimsa melangkah dengan sendirinya. Tiada kata-kata yang menentang dan permusuhan di dalam hidupnya.
            Adapun prinsip hidup yang dilakukan Mahatma Gandhi yaitu :
1. Ahimsa, hidup dengan tidak menyakiti adalah kekuatan aktif dan sangat penting   yang tidak berasal dari kekuatan pisik.
2. Satyagaraha, menjalani kehidupanan dengan prinsip kebenaran (satya)
3. Swadesi , selalu berusaha sendiri serta mengurangi ketergantungan pada orang lain.

            Prinsip hidup yang diterapkan Mahatma Gandhi masih relepan kita terapan dalam kehidupan sekarang dan selamanya, karena prinsip hidup itu bersifat mendasar dan universal.

KEGIATAN KEAGAMAAN , ADAT DAN BUDAYA
Bidang Agama
Secara rutin disekolah dilaksanakan doa dan Trisandya pada saat awal pelajaran dimulai dan pada jam 12 siang menjelang pelajaran berakhir. Disamping itu, setiap hari Purnama dan hari Tilem dilaksanakan persembahyangan bersama di Padmasana sekolah, seluruh siswa beragama hindu wajib berpakaian adat ke pura.
Sementara tiap 6(enam) bulan atau 210 hari dilaksanakan peringatan hari Raya Saraswati, serta tiap tahunnya dilaksanakan persembahyangan bersama dalam rangka Piodalan di Padmasana sekolah dan juga hari raya Siwaratri yang diisi dengan pembuatan “gebogan buah” sebagai persembahan oleh masing-masing kelas.
            Disamping kegiatan persembahyang seperti tertera di atas, sekolah juga melakkan kegiatan Titra Yatra menjelang Ujian sekolah yang dilaksanakan bagi siswa kelas sembilan bersama guru wali masing-masing. Pelaksanaan Pesraman kilat juga dilaksanakan pada saat liburan semester, yang bertujuan memberi kemantapan disiplin spiritual dengan latihan Asana Yoga, Meditasi dan  Seni Budaya.

Bidang Seni Budaya
            Pelajaran Seni Budaya dilaksanakan secara rutin setiap minggu melalui pelajaran Seni dan Budaya di kelas serta terjadwal. Siswa juga dapat memilih ketrampilan Seni Tari, seni Kerawitan, seni Lukis dan seni Musik ,Majejahitan, Kidung-kekawin, Nyurat Lontar, bagi siswa yang memilih eksul Seni. Pentas seni biasanya dilakukan pada saat Hari Ulang Tahun Sekolah, Pekan Seni dan Olah Raga Pelajar (Porsenijar) baik tingkat Kecamatan, Kabupaten maupun sampai Profinsi. Disamping itu pentas tari sering pula tampil dalam kegiatan “Kuta Karnival”yang berlangsung tiap tahun di Pantai Kuta dalam rangka promosi wisata kuta.
            Pada akhir tahun saat dilangsungkan ujian sekolah, pelajaran agama dan pelajaran seni melakukan ujian praktek berupa pembacaan Sloka dan Palawakya kekidung serta pentas tari secara beregu.